J-35A solusi China bagi negara-negara yang tidak diberi izin untuk membeli F-35 AS

J-35A Singapore Airshow 2026RAeS

AIRSPACE REVIEW – Salah satu sorotan media dari penyelenggaraan Singapore Airshow 2026 yang dibuka hari ini, dan berlangsung pada 3-8 Februari di Changi Exhibition Center, adalah kehadiran model skala jet tempur Shenyang J-35A dari China.

Kemunculannya pesawat ini disinyalir sebagai sinyal kuat dari kesiapan Beijing untuk memasarkan jet tempur ini ke pasar ekspor internasional.

J-35A menjadi perhatian karena jet ini dinilai sebagai pesaing tangguh untuk jet tempur generasi kelima F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat.

Tak dapat dibantah, F-35 saat ini adalah jet tempur generasi kelima terlaris di dunia dengan 1.300 unit telah diproduksi dan dipesan.

F-35 menjadi simbol kekuatan terbaru angkatan udara negara-negara sekutu, menggantikan armada jet tempur generasi keempat lama F-16 Fighting Falcon.

Beijing sangat memahami bahwa tidak semua negara, bahkan negara-negara yang dekat dengan AS dan telah mengoperasikan jet tempur buatan AS sejak lama, dapat memiliki F-35.

AS menerapkan berbagai aturan ketat di mana negara pengoperasi F-35 harus sekaligus dapat menjamin keselamatan dan kerahasiaan F-35 sebelum memberikan izin kepada negara tersebut untuk mengakuisisinya.

Di sinilah, dengan J-35A, China menyasar negara-negara yang ingin mengakuisisi F-35 namun harus bertepuk sebelah tangan karena tidak mendapat restu dari Washington.

Di Singaporea Airshow 2026,. J-35A, walau masih dalam bentuk model skala, hadir sebagai debutan, setelah debut publiknya di Airshow China pada 2024 lalu.

Berbeda dengan varian dasar J-35 yang menggunakan kait pendarat untuk operational di kapal induk, J-35A adalah varian berbasis darat yang lebih ringan.

Meski demikian, berbeda dengan F-35 AS yang menggunakan satu mesin, J-35 termasuk halnya J-35A, menggunakan mesin ganda, yang kemungkinan besar dalam seri produksi akan menggunakan WS-19 buatan dalam negeri.

Sebagaimana jet tempur siluman, J-35A didesain memiliki karakteristik low-observable dan memiliki ruang senjata internal (internal weapons bay) untuk menjaga profil radar tetap rendah.

Hadirnya model skala J-35A di pameran kedirgantaraan internasional dua tahunan di Singapura, menegaskan bahwa persaingan jet tempur generasi kelima di kawasan Asia Pasifik kini semakin nyata.

Berasal Dari Proyek Spekulatif SAC

Tidak seperti jet tempur China lainnya yang biasanya dimulai dari pesanan militer resmi, J-35 muncul dari sebuah proyek spekulatif Shenyang Aircraft Corporation (SAC), bagian dari Aviation Industry Corporation of China (AVIC), menggunakan dana perusahaan secara mandiri.

Sebelum dikenal sebagai J-35, proyek ini dimulai dengan nama internal J-21 “Snowy Owl” di tahun 2007/2008. Saat itu, China baru saja memperkenalkan jet tempur J-20 Mighty Dragon buatan Chengdu sebagai jet siluman berat.

SAC tertantang untuk menawarkan alternatif jet siluman yang lebih kecil, lebih murah, dan bermesin ganda. SAC melihat peluang di mana di AS ada F-22 Raptor dan F-35. Maka selain J-20, China tentu membutuhkan jet tempur pelengkap yang lebih ringan.

Namun demikian, pamor J-20 sangat kuat kala itu, sehingga proyek J-21 kalah pamor dan hanya menjadi sebuah bayang-bayang saja.

Meskipun tidak mendapatkan dana dari pemerintah, SAC tetap melanjutkan proyek “Burung Hantu Salju” tersebut dan kemudian memproyeksikannya sebagai jet tempur untuk pasar ekspor.

Berkat keuletan dan rasa percaya diri yang tinggi, akhirnya lahirlah prototipe pertama (V1) dengan FC-31 (versi ekspor). Pesawat ini terbang perdana pada 31 Oktober 2012.

Empat tahun kemudian, SAC memperkenalkan prototipe kedua yang jauh lebih matang. Desain pesawat lebih aerodinamis, dengan belakang yang lebih ramping untuk mengurangi jejak radar, dan peningkatan pada sistem Electro-Optical Targeting System (EOTS) di bawah hidung.

Pesawat prototipe kedua (V2) ini kemudian terbang perdana pada Desember 2016.

Prototipe ini telah menggunakan mesin WS-13E buatan China yang diklaim lebih kuat dan efisien, menggantikan mesin buatan Rusia yang digunakan sebelumnya.

Titik Balik

Titik balik terbesar FC-31 terjadi ketika Angkatan Laut China (PLAN) membutuhkan jet tempur siluman untuk kapal induk terbaru mereka, Fujian (Type 003), yang menggunakan sistem peluncur ketapel (catapult).

Dari sini muncullah prototipe J-35 sebagai jet tempur yang berbasis di kapal induk. Pesawat ini diperkenalkan pada Oktober 2021 dengan skema warna abu-abu angkatan laut.

Pesawat memiliki sayap yang bisa dilipat, kaki pendaratan depan yang diperkuat untuk ketapel, dan sensor yang lebih canggih. Mulai dari sinilah nama J-35 mulai digunakan secara luas dan dikenal publik.

Tak berhenti di varian kapal Induk, pada tahun 2024 SAC kembali ke niat awal membuat FC-31 untuk versi ekspor bagi angkatan udara.

Dari sinilah kemudian muncul J-35A, yaitu varian berbasis darat yang akhirnya pesawat ini pun diadopsi oleh Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) alias Angkatan Udara China.

Prototipe J-35 pertama ini, yang teridentifikasi menggunakan nomor seri 350001, terbang perdana pada 29 Oktober 2021.

Pesawat ini tampil dengan warna “Blue-Grey” khas angkatan laut, berbeda dengan prototipe FC-31 sebelumnya yang berwarna hitam.

Dibandingkan FC-31, J-35 memiliki sayap yang lebih besar. Pesawat dirancang untuk dapat memberikan stabilitas lebih saat mendarat di dek kapal induk yang sempit dan bergerak.

J-35A memiliki desain yang jauh lebih luwes dan terintegrasi di mana badan dan sayap menyatu (blended wing-body).

Ekor vertikalnya kini lebih miring dan aerodinamis untuk memantulkan gelombang radar dengan lebih efektif.

Garis-garis panel pada bodi J-35A juga jauh lebih rapi, menunjukkan kemajuan China dalam teknik manufaktur material penyerap radar (RAM).

Perusahaan mengindikasikan, J-35A dilengkapi dengan sensor tempur penuh, terdiri dari Electro-Optical Targeting System (EOTS) di di bawah hidung yang sangat mirip dengan F-35. Sensor ini berfungsi untuk membidik target tanpa menyalakan radar supaya tetap tersembunyi.

Pesawat juga dilengkapi dengan radar Active Electronically Scanned Array (AESA) generasi terbaru yang mampu melacak lebih banyak target pada jarak yang lebih jauh dibandingkan radar pada prototipe awal.

Bila FC-31 menggunakan kanopi tradisional dengan bingkai internal, J-35A mengadopsi desain kanopi pembuka ke depan (forward-opening canopy) mirip dengan F-35.

Selain itu, kokpitnya kini dilengkapi dengan layar tunggal besar (Large Area Display/LAD) dan helm canggih.

Sebagai jet tempur generasi kelima, sistem persenjataan J-35A dirancang dengan prinsip utama: “First Look, First Shoot, First Kill.”

Persenjataan

Karena ini adalah pesawat siluman, J-35A menyimpan senjata utamanya di dalam perut pesawat (Internal Weapons Bay) agar bentuk pesawat tetap rata dan tidak tertangkap radar.

J-35A dilengkapi bergam persenjataan andalan China. Untuk rudal udara ke udara, pesawat dilengkapi dengan PL-15. Ini adalah rudal jarak menengah-jauh berpemandu radar aktif yang merupakan pesaing utama AIM-120 AMRAAM milik AS.

Rudal ini memiliki jangkauan hingga 145 km – 200 km. Di dalam internal bay, J-35A diperkirakan mampu membawa empat PL-15.

Untuk rudal udara ke udara jarak dekat, pesawat dilengkapi dengan rudal PL-10. Ini adalah rudal pencari panas (heat-seeking) untuk pertempuran jarak dekat (dogfight).

Rudal ini sangat lincah dan dapat ditembakkan pada sudut ekstrem mengikuti arah pandangan helm pilot. Biasanya dibawa di rel samping atau di bawah sayap.

Sementara untuk persenjataan udara ke laut terdapat berbagai bom pintar, seperti LS-Series (Small Diameter Bombs), yaitu bom berpemandu presisi berukuran kecil.

Karena ukurannya yang ringkas, J-35A bisa membawa lebih banyak bom jenis ini di dalam ruang internal untuk menghancurkan beberapa target sekaligus dalam satu sortie.

Kemudian ada bom FT-Series, yaitu bom berpemandu satelit (GPS/Beidou) yang mirip dengan keluarga JDAM milik Amerika Serikat.

Selain bom, tentu ada rudal udara ke permukaan seperti YJ-83K. Ini adalah rudal anti-kapal untuk misi serangan jarak jauh.

Jika misi tidak memerlukan fitur siluman, seperti yang telah disinggung tadi, J-35A dapat membawa enam pylon eksternal di bawah sayap.

Dalam konfigurasi ini, kapasitas angkut senjatanya meningkat drastis, memungkinkan pesawat membawa rudal berat atau tangki bahan bakar tambahan. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *