AIRSPACE REVIEW – Rostec State Corporation dari Rusia memperkenalkan lini terbaru drone multiguna keluarga Lightning untuk pertama kalinya di pameran UMEX 2026 di Abu Dhabi baru-baru ini.
Drone tersebut dapat digunakan untuk berbagai misi, mulai dari pengintaian, pengiriman kargo, hingga operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) dan perlindungan perbatasan.
Tiga drone Lightning Rusia dipamerkan di pameran tersebut, yaitu Lightning 2, Lightning P, dan Lightning R, seperti diberitakan EDR-Online.
Semua drone tersebut memiliki desain aerodinamis standar, sayap trapesium yang dipasang di tengah dengan bentang 1,82 m, dan panjang badan pesawat 1,63 m.
Baterai onboard memberi daya pada dua motor listrik yang dilengkapi dengan baling-baling dua bilah.
Drone Lightning 2 dirancang untuk pengiriman kargo kecil, penilaian situasi darurat, dan pelatihan operator.
Drone Lightning P didesain dapat membawa muatan hingga 6 kg dengan jangkauan hingga 50 km pada kecepatan terbang 140 km/jam.
Drone dengan kecepatan terbang maksimum 270 km/jam ini dirancang untuk memantau, mengendalikan, dan mensurvei permukaan medan yang luas.
Sementara drone Lightning R dirancang untuk pemantauan siang/malam dalam berbagai kondisi iklim.
Drone ini dilengkapi dengan kamera stabil dengan zoom hibrida 30x, memungkinkan pengawasan sambil bermanuver.
Lightning R memiliki berat lepas landas 12 kg dan durasi terbang 40 menit.
Teknologi Pengendali Canggih
Sementara itu, berdasarkan laporan lapangan dan analisis militer terbaru hingga awal 2026, penggunaan drone murah Rusia semakin meningkat seiring kebutuhan yang tinggi di medan perang.
Rangka utama drone banyak terbuat dari kombinasi kayu lapis (plywood), plastik, dan pipa aluminium.
Drone jenis ini memiliki desain yang sangat sederhana sehingga memungkinkan untuk diproduksi di bengkel-bengkel kecil, bukan hanya di pabrik pesawat besar.
Hal ini membuatnya sangat sulit untuk dihentikan melalui sanksi ekonomi karena komponennya banyak yang bersifat off-the-shelf (komponen sipil biasa).
Meski fisiknya sederhana, sistem di dalamnya terus berevolusi untuk melawan jamming atau peperangan elektronik (EW) musuh.
Sejumlah drone sederhana yang digunakan Rusia juga dilaporkan sudah dilengkapi dengan fitur machine-vision tracking.
Artinya, jika sinyal ke operator terputus karena gangguan sinyal (jamming), drone bisa mengunci target secara otomatis menggunakan AI dan tetap menabrak sasaran.
Ada pula laporan mengenai penggunaan kabel serat optik pada drone varian tertentu untuk transmisi video.
Hal ini membuat drone benar-benar kebal terhadap jammer karena tidak menggunakan gelombang radio untuk pengendaliannya.
Intelijen Ukraina baru-baru ini juga melaporkan adanya modifikasi drone Molniya Rusia yang mengintegrasikan terminal Starlink untuk kendali jarak jauh, meskipun ini masih dalam tahap eksperimen. (RNS)

