AIRSPACE REVIEW – Di saat maskapai lain menjerit-jerit akibat mengoperasikan jet superjumbo Airbus A380 dan kemudian beralih ke jet badan lebar twin engine, Emirates malah bahagia karena bisa mengeruk keuntungan dari penerbangan jarak jauh menggunakan pesawat berkabin penumpang double decker ini.
Maskapai lain seperti Air France, Lufthansa, hingga Malaysia Airlines, justru kewalahan dan telah memensiunkan A380 dari armada mereka lebih awal. Sementara bagi Emirates, A380 adalah “anak emas” dan mesin uang yang disayangi.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, FY 2024-2025, Emirates mencatatkan laba bersih sebesar 5,2 miliar USD (sekitar Rp82 triliun) dari total pendapatan 34,9 miliar USD (setara Rp592,5 triliun).
Laporan tersebut mengukuhkan Emirates sebagai maskapai penerbangan paling menguntungkan di dunia.
Biaya operasional satu kali terbang A380, misalnya rute Dubai ke London, diperkirakan mencapai 500.000 USD (Rp7,9 miliar). Sekitar 30% biaya tersebut habis untuk bahan bakar.
Dengan kapasitas 500+ kursi dan tingkat keterisian (seat factor) Emirates yang mencapai 79%, satu penerbangan A380 bisa menghasilkan pendapatan yang jauh melampaui biaya tersebut, terutama berkat tiket kelas bisnis dan first class yang harganya fantastis.
Emirates menggunakan A380 sebagai strategi volume. Di rute superpadat seperti Dubai–London Heathrow yang dilakukan 6 kali sehari, A380 jauh lebih menguntungkan karena biaya per kursi (cost per seat) A380 sebenarnya lebih rendah dibanding pesawat lain.
Lantai atas A380 Emirates hampir seluruhnya berisi kelas premium. Satu penumpang First Class rute jauh bisa membayar setara dengan 10-15 penumpang kelas ekonomi. Ini yang membuat margin keuntungan mereka sangat tebal.
Faktor lainnya, yang tak bisa dinafikan, banyak orang memilih Emirates hanya karena ingin naik A380. Dalam hal ini, Emirates menjual “pengalaman”, bukan sekadar tiket pesawat. Hal ini memungkinkan Emirates memasang harga sedikit lebih mahal dibanding kompetitor yang menggunakan pesawat biasa.
Itu sekilas mengenai mengapa A380 justru menguntungkan bagi Emirates, yang tentu tidak lepas dari peran tangan dingin Presiden Emirates Sir Tim Clark yang telah menduduki jabaran bergengsi ini sejak 2003.
Tidak salah bila Sir Tim Clark sering disebut sebagai “The Godfather of the A380”, karena dialah sosok yang paling gigih membela desain A380 sejak awal dan menekan Airbus untuk membuat pesawat tersebut lebih efisien.
Tanpa kepemimpinan Clark, bisa jadi Emirates juga tidak akan mengoperasikan A380 yang dianggap sebagai mesin pembakar uang oleh maskapai lain.
Bayangkan, Emirates adalah operator terbesar A380 dengan total memiliki 116 unit pesawat ini. Pada tahun 2026, Emirates menargetkan 98 hingga 110 unit A380 terus beroperasi secara aktif dan terbang bergantian dalam rute-rute internasional yang gemuk.
Dengan A380, Emirates bahagia menjalankan bisnisnya, dan baru akan memensiunkan pesawat ini di tahun 2041.
Corak Grand Slams
Di tengah upayanya untuk terus tumbuh menjadi maskapai besar yang menguntungkan, baru-baru ini Emirates secara resmi meluncurkan corak khusus baru yang mencolok pada salah satu pesawat Airbus A380 miliknya.
Pesawat yang dipilih, dengan nomor registrasi A6-EUH, menerima skema visual eksklusif yang memberikan penghormatan kepada sponsor perusahaan atas empat turnamen Grand Slam.
Emirates merupakan mitra lama Australian Open, Roland-Garros, The Championships, Wimbledon, dan US Open, yang terus hadir sepanjang musim acara-acara besar dunia tersebut.
Di beberapa turnamen ini, seperti US Open dan Roland-Garros, hubungan tersebut telah berlangsung lebih dari satu dekade, sementara di Wimbledon merek ini baru-baru ini mengambil posisi penting, mengukuhkan Emirates sebagai satu-satunya maskapai penerbangan yang memiliki eksposur penuh di semua Grand Slam.
Desain yang diterapkan pada A380 menggabungkan elemen grafis yang terinspirasi oleh tenis dengan logo resmi setiap turnamen, yang dibingkai dalam motif yang mengingatkan pada bola olahraga tersebut.
Warna yang dipilih mengikuti identitas visual setiap kompetisi, dengan warna biru yang dikaitkan dengan musim panas Australia, warna tanah yang mengingatkan pada lapangan tanah liat Paris, warna hijau dan ungu tradisional Wimbledon, dan kombinasi kuning dan biru yang cerah dari US Open.
Hasilnya adalah pesawat yang mudah dikenali di bandara mana pun. Corak ini memberikan dampak baik di darat maupun dalam gambar yang banyak dibagikan oleh para penggemar penerbangan dan masyarakat umum.
Dengan area eksternal yang luas yang tersedia untuk skema pengecatan khusus dan kehadiran yang konstan di bandara-bandara dengan lalu lintas tinggi, A380 telah menjadi ajang pamer strategis untuk kampanye global perusahaan, mengubah setiap pendaratan dan lepas landas menjadi peluang untuk memperkuat merek.
Di luar aspek visual, desain baru ini memperkuat hubungan Emirates dengan nilai-nilai yang terkait dengan tenis elite, seperti ketepatan, performa, disiplin, dan jangkauan internasional.
Pesawat ini diharapkan akan sering muncul di rute internasional dengan visibilitas tinggi, termasuk destinasi di Amerika, Eropa, Asia, dan Oseania, yang selanjutnya meningkatkan eksposur kampanye tersebut. (RNS)

