AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara India (IAF) dikabarkan memulai diskusi dengan Ekuador untuk mengakuisisi kerangka pesawat Jaguar bekas Angkatan Udara Ekuador (FAE), seperti dilaporkan oleh Defence Professionals India pada 6 Januari 2026.
Dengan produksi Jaguar yang berakhir pada awal tahun 1980-an dan rantai pasokan asli yang tidak lagi aktif, ketersediaan mesin, rakitan struktural, komponen avionik, dan roda pendaratan telah menjadi faktor pembatas bagi IAF.
Armada Jaguar bekas Ekuador tersebut nantinya akan dibongkar untuk diambil mesin, komponen struktural, dan sistemnya.
Upaya ini bertujuan untuk mempertahankan armada Jaguar India agar dapat terus mengudara hingga tahun 2035. Pada tahun tersebut pesawat penggantinya seperti HAL Tejas Mk2 dan Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) diharapkan sudah dapat digunakan.
Diketahui, Ekuador memesan total 12 pesawat Jaguar pada tahun 1974. Terdiri dari 10 varian ekspor Jaguar ES satu tempat duduk dan dua pesawat latih tempur Jaguar EB dua tempat duduk.
Ekuador menerima tiga pesawat Jaguar GR.1 dari Inggris pada tahun 1991, untuk menggantikan pesawat yang rusak dan guna mempertahankan kekuatan satu skuadron penuh.
Saat ini, IAF tercatat menjadi satu-satunya di dunia yang masih mengoperasikan pesawat serang darat ini, bahkan dalam peran garis depan. Total 86 pesawat aktif, terdiri dari delapan Jaguar-IM dan 78 versi Jaguar-IS.
Mengenai Jaguar, merupakan jet tempur supersonik bermesin ganda untuk misi serang darat yang diproduksi oleh SEPECAT, perusahaan patungan antara Inggris dan Prancis.
Jaguar ditenagai oleh dua mesin turbofan afterburning Rolls-Royce Turbomeca Adour, yang memungkinkan kecepatan maksimum sekitar 1,6 Mach terbang di ketinggian rendah.
Pesawat dengan berat lepas landas maksimum 15 ton ini memiliki struktur rangka yang kuat dan roda pendaratan yang kokoh, dirancang untuk operasi dari landasan udara semi siap.
Kapasitas persenjataan yang dapat dibawa Jaguar mencapai sekitar 4.500 kg, mencakup kanon internal 30 mm, bom tanpa pemandu atau berpemandu, pod roket, rudal antiradiasi, dan rudal udara ke udara jarak pendek.
Meskipun avionik aslinya didasarkan pada sistem navigasi dan serangan tahun 1970-an, India telah memodernisasi Jaguar-nya dengan sistem navigasi inersia, GPS, komputer serangan modern, dan kompatibilitas dengan senjata berpemandu presisi.
Selain berusaha mendapatkan suku cadang dari Ekuador, India juga akan menerima lebih dari 20 pesawat Jaguar dari Oman yang sudah tidak aktif.
Angkatan Udara Kerajaan Oman (RAFO) memperoleh total 27 pesawat Jaguar, terdiri dari 20 Jaguar SO1 berkursi tunggal dan sisanya Jaguar BO2 bertempat duduk tandem. Pengiriman pesawat dari Inggris ini dimulai pada Maret 1977.
Selanjutnya, empat pesawat Jaguar RAFO terakhir yang masih beroperasi secara resmi dipensiunkan pada 6 Agustus 2014. (RBS)

