Disambut ribuan warga, abu kremasi 32 personel militer Kuba pengawal Presiden Nicolás Maduro dipulangkan ke negaranya

32 abu jenazah prajurit Kuba pengawal Maduro dipulangkan ke negaranyaAssociated Press

AIRSPACE REVIEW – Suara terompet dan genderang terdengar mengalun khidmat di Bandara Havana, Kuba pada hari Kamis (15/1) ketika sejumlah tentara Kuba yang bersarung tangan putih keluar dari pintu pesawat.

Mereka membawa 32 kotak (guci-guci) berisi abu hasil kremasi dari 32 jenazah perwira Kuba yang tewas dalam serangan operasi militer AS di Caracas pada dini hari tanggal 3 Januari 2026.

— Sepeti Airspace Review beritakan sebelumnya, operasi rahasia AS bersandi “Absolute Resolve” adalah operasi militer yang digelar Amerika Serikat dengan mengerahkan lebih dari 150 pesawat berbagai jenis, helikopter, dan drone serta pasukan khusus Delta Force untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya dan membawanya ke AS.

Operasi tersebut berhasil dilaksanakan selama kurang dari tiga jam, tanpa kerugian dan korban jiwa di pihak AS. (AS menolak uintuk menyebut operasi tersebut sebagai operasi penculikan).

Dari pihak Venezuela, dilaporkan 32 personel pengawal Presiden Maduro yang saat itu bertugas di kompleks militer kediaman Maduro dinyatakan tewas. —

Sementara itu, puluhan ribuan warga Kuba telah berbaris di salah satu jalan paling ikonik di Havana untuk menunggu iring-iringan kendaraan yang membawa abu jenazah.

Mereka berdiri di sana untuk memberikan penghormatan terakhir, memberi hormat kepada guci-guci abu atau meletakkan tangan mereka di dada. Banyak di antara mereka basah kuyup karena berdiri di sana dalam keadaan hujan deras.

Pemakaman massal pada hari Kamis hanyalah salah satu dari sedikit pemakaman yang telah diselenggarakan Pemerintah Kuba selama setengah abad terakhir, Associated Pres melaporkan.

Seperti disinggung di muka, para tentara Kuba yang gugur merupakan bagian dari tim keamanan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Televisi pemerintah memberitakan, selain 32 prajurit yang gugur, lebih dari selusin prajurit mengalami luka-luka akibat serangan brutal AS.

Seorang pria yang diidentifikasi oleh media pemerintah sebagai Kolonel Pedro Yadín Domínguez menghadiri upacara pemakaman pada hari Kamis. Ia hadir dengan menggunakan kursi roda.

Ia mengatakan, serangan AS pada dini hari itu adalah serangan yang tidak proporsional yang menewaskan 11 rekannya di sekitarnya saat mereka tidur.

Ketegangan antara Kuba dan AS telah meningkat, di mana Trump baru-baru ini menuntut agar negara Karibia itu membuat kesepakatan dengannya “sebelum terlambat”. Ia tidak menjelaskan jenis kesepakatan apa yang dimaksud.

Menteri Dalam Negeri Kuba, Lázaro Alberto Álvarez Casas, menyebut para prajurit yang gugur sebagai pahlawan perjuangan anti-imperialis yang mencakup Kuba dan Venezuela.

Dalam sebuah pernyataan yang tampaknya merujuk pada AS, ia mengatakan bahwa musuh berbicara tentang operasi presisi tinggi, pasukan, elite, dan supremasi.

“Sebaliknya, kami berbicara tentang wajah-wajah, tentang keluarga yang telah kehilangan seorang ayah, seorang putra, seorang suami, seorang saudara,” kata Álvarez.

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa imperialisme mungkin memiliki senjata yang lebih canggih, mungkin memiliki kekayaan materi yang sangat besar, mungkin dapat membeli pikiran orang-orang yang bimbang, namun ada satu hal yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang, itulah martabat rakyat Kuba,” lanjutnya.

Militer Kuba dalam pernyataannya menyebut, ke 32 personel militer mereka yang gugur dalam serangan AS itu berusia antara 26 hingga 60 tahun. Mereka merupakan bagian dari perjanjian perlindungan antara Kuba dan Venezula. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *