AIRSPACE REVIEW – China secara resmi telah merilis dua versi terbaru jet tempur siluman Chengdu J-20 Mighty Dragon bersamaan dengan perayaan memperingati 15 tahun jet tempur generasi kelima Tiongkok ini yang mengudara perdana tanggal 11 Januari 2011.
Sang “Naga Perkasa” kini diakui telah memasuki fase kematangan teknologi dan doktrin perang udara.
Varian J-20A berkursi tunggal dan J-20S berkursi tandem versi terbaru diperkenalkan oleh media pemerintah sebagai platform yang jauh lebih baik dibandingkan pendahulunya.
Kedua pesawat menampilkan perubahan struktural, sistem onboard baru, dan fungsi yang diperluas dalam konsep peperangan udara jaringan.
J20A dan J-20S pertama kali ditampil di depan publik saat parade militer Hari Kemenangan di Beijing pada 3 September 2025. Kedua pesawat terbang secara bersamaan dalam formasi panah.
Meskipun penampilan tersebut menarik perhatian internasional, baru kemudian sumber-sumber resmi yang berafiliasi dengan PLA merinci apa yang membedakan varian-varian ini dari model awal.
Menurut media Tiongkok, J-20A tetap diklasifikasikan sebagai pesawat tempur siluman multiperan berat. Bedanya pesawat ini kini memiliki paket modernisasi yang lebih ekstensif.
Perubahan eksternal yang paling terlihat adalah pada bagian kanopi dan area badan pesawat bagian atas.
Tidak seperti J-20 awal, yang memiliki kubah yang lebih tinggi untuk memaksimalkan visibilitas pilot, J-20A menampilkan integrasi yang lebih halus antara kanopi dan badan pesawat.
Desain tersebut mengurangi hambatan aerodinamis dan meningkatkan aliran udara pada kecepatan tinggi.
Perubahan ini dikaitkan dengan peningkatan kinerja penerbangan supersonik berkelanjutan dan efisiensi yang lebih besar dalam misi jarak jauh.
Para ahli Tiongkok juga menunjukkan bahwa sedikit peningkatan ketinggian di bagian belakang kanopi menciptakan ruang internal tambahan untuk sistem elektronik baru dan mungkin bahan bakar tambahan.
Volume tambahan ini sangat penting untuk mengakomodasi avionik yang lebih canggih, sensor yang lebih baik, dan kapasitas pemrosesan data yang lebih besar.
Dengan begitu, pilot J-20A menjadi kurang bergantung pada pengamatan visual langsung dan lebih bergantung pada penggabungan data yang disediakan oleh sensor elektro-optik yang tersebar di sekitar pesawat, yang mampu menghasilkan kesadaran situasional 360 derajat.
Pengamat mengatakan, peningkatan telah meningkatkan bobot pesawat, sehingga muncul spekulasi bahwa J-20A kini menggunakan mesin yang lebih bertenaga.
Penilaian Barat, termasuk laporan dari Departemen Pertahanan AS, telah menunjukkan bahwa J-20A dikaitkan dengan mesin WS-15 buatan China.
Mesin ini dirancang dapat memberikan daya dorong yang lebih besar, peningkatan kinerja supercruise, dan peningkatan kapasitas pembangkit listrik untuk mendukung sensor canggih dan sistem peperangan elektronik.
Laporan yang sama juga menyebutkan kemungkinan kemajuan dalam kapasitas pembawa rudal internal dan keseluruhan karakteristik siluman pesawat.
Sementara J-20S, menandai pergeseran yang lebih mendalam dalam penggunaan operasional. Pesawat ini digambarkan oleh televisi Pemerintah China sebagai jet tempur siluman dua tempat duduk pertama di dunia.
J-20S dirancang untuk misi superioritas udara jarak menengah dan jauh, serangan presisi terhadap target darat dan laut, peperangan elektronik, dan, yang terpenting, fungsi komando dan kendali taktis.
Kehadiran awak kedua di pesawat ini memungkinkan pembagian beban kerja di lingkungan yang sangat diperebutkan, di mana volume informasi dan kompleksitas misi dapat melebihi kapasitas seorang pilot tunggal.
Peran J-20S dapat dibandingkan dengan peran seorang derigen di medan pertempuran udara.
Pilot di kokpit depan difokuskan untuk menjalankan misi penerbangan dan pertempuran langsung. Sementara perwira yang duduk di kursi belakang akan mengelola sensor, tautan data, dan koordinasi pesawat tak berawak, bertindak sebagai simpul komando tingkat lanjut.
Konsep ini terkait langsung dengan doktrin Tiongkok tentang kerja sama berawak-tak berawak, yang membayangkan integrasi jet tempur berawak dengan drone pengintai, penyerang, dan peperangan elektronik, guna memperluas jangkauan dan efektivitas sistem tempur secara keseluruhan.
MESIN WS-15
Mesin WS-15 diproduksi oleh Shenyang Liming Aircraft Engine Company atau Liming Aeroengine. Ini adalah anak perusahaan dari Aero Engine Corporation of China (AECC).
Mesin WS-15 yang dikenal dengan nama Emei (diambil dari nama gunung suci di China), merupakan pencapaian teknologi paling krusial bagi industri kedirgantaraan China saat ini.
Selama bertahun-tahun, ketergantungan pada mesin Rusia (AL-31F) dinilai telah mempersempit pengembangan J-20 dalam varian-varian lanjutan.
Dengan menggunakan mesin buatan dalam negeri yang dirancang sesuai kebutuhan spesifik, China telah maju lebih cepat, termasuk dalam pengembangan jet tempurnya.
Mesin low-bypass turbofan ini diklaim Beijing telah melampaui kapabilitas mesin F119 yang digunakan oleh jet tempur F-22 Raptor Amerika Serikat.
WS-15 mampu menghasilkan daya dorong maksimal sekitar 18 ton (181 kN) dengan afterburner, melebihi daya dorong mesin AL-31F Rusia yang hanya 12,5–14,5 ton. (RNS)

