AIRSPACE REVIEW – Belanda berpeluang menjadi negara NATO pertama yang mendapat izin dari Amerika Serikat untuk memproduksi rudal udara ke udara jarak menengah-jauh, AIM 120 AMRAAM.
Perusahaan belanada akan bekerja sama dengan produsen rudal AMRAAM, yakni Raytheon, bagian dari RTX.
Proyek tersebut baru-baru ini telah mendapat persetujuan dari Pemerintah Amerika Serikat, dengan studi kelayakan akan dimulai tahun 2026.
Perusahaan belanda akan dianalisis terlebih dahulu untuk dapat berpartisipasi dalam pembuatan, perakitan, dan pemeliharaan rudal tersebut.
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi integrasi perusahaan-perusahaan Belanda ke dalam rantai produksi AMRAAM, yang digunakan baik pada jet tempur F-35 Lightning II maupun sistem pertahanan udara berbasis darat seperti NASAMS.
Raytheon akan memimpin evaluasi ini dalam kemitraan dengan pemerintah Belanda dan Kementerian Pertahanan Belanda, yang membuka jalan bagi produksi bersama AMRAAM pertama di Eropa dalam NATO.
Para pejabat pertahanan mengatakan peningkatan kapasitas industri di Eropa sangat penting untuk memperkuat postur pertahanan aliansi Atlantik dan menjaga aliran pasokan strategis di tengah meningkatnya permintaan akibat perang di Ukraina.
Kementerian Pertahanan Belanda menyatakan, perluasan produksi rudal AMRAAM sangat penting untuk memastikan keamanan wilayah udara Eropa dan untuk terus mendukung Ukraina dengan sistem pertahanan berteknologi tinggi.
Sebelumnya pada September 2025, AS telah menyetujui penjualan hingga 232 unit AIM-120C-8 ke Belanda, dengan perkiraan nilai US$570 juta. (RNS)

