Tantangan perang ke depan adalah bagaimana mengatasi serangan drone

Drone Lancet Rusia menyerang MiG-29 UkrainaYouTube

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Salah satu tantangan terbesar dalam perang di masa depan, yang telah dimulai saat ini, adalah bagaimana merumuskan cara efektif untuk melawan serangan drone.

Drone atau kendaraan udara tak berawak, UAV, yang awalnya tidak begitu diperhitungkan, kini telah bertransformasi menjadi senjata mematikan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Tidak hanya melakukan peran pengintaian dan pengumpulan informasi intelijen di udara, drone juga telah menjadi alat pembunuh dan penghancur target bernilai tinggi.

Drone mampu berperan sebagai senjata satu tiket perjalanan (one way ticket) alias senjata bunuh diri. Karenanya pula kemudian muncul berbagai jenis drone kamikaze atau dalam istilah yang lebih populer disebut munisi berkeliaran (loitering munition).

Drone jenis ini mampu terbang rendah yang menyulitkan radar untuk mendeteksinya. Drone ini juga mampu terbang jauh dan kini bahkan mampu terbang dengan kecepatan sangat tinggi mencapai lebih dari 300 km/jam atau setara dengan kecepatan kereta cepat.

Dengan hanya berukuran sangat kompak, yang dapat dibawa oleh seorang personel, drone kamikaze dilepaskan ke udara untuk menjadi algojo baik pada siang hari atau malam hari.

Drone jenis ini juga dapat diluncurkan dari rak-rak penampungnya yang dibawa menggunakan kendaraan bak terbuka.

Ketika para prajurit musuh lengah, munisi-munisi udara ini malah berkeliaran mencari mangsanya dan melancarkan serangan.

Kehadiran drone sebagai senjata baru yang mematikan, tak luput dari perhatian NATO saat ini, yang secara lebih serius merumuskan lagi berbagai cara untuk menangkal serangan drone.

Sebab, apabila drone-drone tersebut dibiarkan tanpa penawar yang setimpal, senjata-senjata tak bertuan itu akan semakin merajalela.

Melumpuhkan drone yang berbiaya murah, tentu saja harus menggunakan sistem persenjataan yang murah pula. Sebab, bila mengandalkan sistem-sistem senjata mahal untuk melumpuhkannya, artinya akan sangat besar pula biaya dan upaya yang harus dikerahkan, yang tentunya tidak setimpal dengan drone-drone berharga murah.

NATO baru-baru ini diberitakan akan mengadopsi doktrin antidrone yang pertama, yang sebagian akan memberikan nasehat kepada negara-negara anggotanya mengenai pendekatan berlapis untuk mempertahankan diri dari sistem udara tak berawak dan pelatihan umum bagi para operator.

Ambisi untuk membentuk doktrin kontra-UAV dalam aliansi militer pada akhir tahun 2023 telah direncanakan selama beberapa waktu, menurut Claudio Palestini, penasihat senior di divisi tantangan keamanan NATO.

“Penugasan formal untuk membuat dokumen ini dikeluarkan pada awal tahun ini,” ujar Palestini menjawab pertanyaan media.

Rumusan doktrin antidrone tersebut didasarkan pada buku pegangan yang telah diterbitkan pada tahun 2019, namun akan lebih fokus lagi pada bagaimana prinsip-prinsip panduan tentang cara efektif melawan drone.

Meskipun beberapa isi antara doktrin dan buku pegangan tersebut, yang tidak pernah dipublikasikan, akan serupa, Palestini mengatakan perbedaan utamanya terletak pada tingkat formalitas dan fokus.

“Buku pegangan tahun 2019 ini panjangnya sekitar 600 halaman dan berfungsi sebagai dokumen awal,” kata dia.

“Cakupan doktrin c-UAS ini akan mencakup seluruh NATO dan lebih koheren, diringkas menjadi 70-80 halaman saja,” tambahnya.

Perang Rusia-Ukraina yang berkecamuk sejak Februari 2022 dan hingga kini belum berakhir, telah memberikan pelajaran di mana drone-drone dari kedua belah pihak, baik dari Rusia maupun Ukraina, tentang betapa efektifnya peran drone, khususnya jenis loitering munition.

Rusia terus mengembangkan Lancet, selain menggunakan drone Shaheed buatan Iran.

Sementara Ukraina juga tak kalah, yaitu dengan menggunakan drone-drone buatan AS dan Barat, di antaranya Switchblade 300 serta sejumlah drone jenis FPV (First Person View) di mana drone-drone yang dilengkapi munisi ini dapat menayangkan video secara langsung kepada operatornya.

Tidak mengherankan apabila di media sosial beredar cuplikan-cuplikan video pada saat drone melakukan pengintaian terhadap prajurit musuh, kendaraan, atau target lainnya secara live.

Drone tentunya telah menjadi salah satu sistem persenjataan yang wajib dimiliki oleh sebuah satuan angkatan perang, apabila tidak ingin mengalami kekalahan dalam pertempuran.

Drone bukan lagi menjadi barang kelas kedua, bahkan sebaliknya menjadi senjata terdepan yang dikerahkan untuk melakukan serangan dengan risiko lebih kecil, dibandingkan pengerahan pasukan darat melalui cara-cara konvensional.

-RNS-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *