Jet tempur siluman J-20 dikerahkan ke Selat Taiwan

J-20Istimewa
ROE

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Angkatan Udara China (PLAAF), mengumumkan bahwa jet tempur siluman J-20 miliknya telah dikerahkan dalam misi di atas Selat Taiwan saat ketegangan meningkat beberapa waktu lalu.

“Jet tempur siluman J-20, jet tempur J-16, pembom H-6K, dan pesawat pengisian bahan bakar Y-20 produksi dalam negeri terbang di atas Selat Taiwan, memperkuat kemampuan untuk mempertahankan kedaulatan nasional,” kata Letnan Kolonel Senior Shen Jinke, juru bicara angkatan udara China pada konferensi pers, 28 September.

Ini adalah pertama kalinya China mempublikasikan informasi resmi tentang pengoperasian jet tempur siluman J-20 di Selat Taiwan.

Shen mengatakan bahwa di luar Selat Taiwan, jet tempur J-20 juga beroperasi di Laut China Timur.

“Jet tempur generasi kelima J-20 sedang dalam misi di banyak zona pertempuran, semakin sering digunakan, dan terbang semakin jauh,” imbuh Shen.

J-20 merupakan pesawat tempur siluman generasi ke-5 ketiga yang beroperasi di dunia (setelah F-22 dan F-35 AS), dikembangkan oleh Grup Chengdu China pada 2011 dan lepas landas untuk pertama kalinya pada 31 Oktober 2012.

Dengan mengadopsi desain sayap delta-canard dan sirip ekor tegak ganda, J-20 mencapai kemampuan manuver yang luar biasa meskipun ukurannya lebih besar dari pada Su-57 Rusia dan F-22 AS.

J-20 memiliki kemampuan aerodinamis dan siluman yang sangat baik. Selain itu, kombinasi dengan rudal super baru PL-21, digadang akan membawa kekuatan yang lebih unggul dibandingkan dengan rudal P-73 pada Su-57.

Mengutip Military Cognizance, para ahli mengatakan bahwa, dengan potensi keuangan yang kuat dan bantuan para ahli dari Ukraina, sangat mungkin bagi China untuk naik ke level Rusia atau bahkan lebih baik di beberapa bidang.

Sistem peperangan elektronik pada J-20 dinilai sangat tangguh dengan radar active electronically scaned array (AESA) dengan sensitivitas pemindaian yang sangat sensitif untuk mendeteksi target.

Namun, analis militer percaya bahwa baik Su-57 dan J-20 belum mencapai performa tempur sejati seperti F-22 dan F-35 milik AS.

Salah satu standar paling ketat untuk mengevaluasi kemampuan jet tempur generasi ke-5 adalah performa mesinnya.

Mesin standar jet tempur generasi ke-5 harus mencapai efisiensi daya dorong yang besar dan mampu terbang dengan kecepatan supersonik tanpa memerlukan booster kedua seperti F-22.

Diketahui, mesin AL-31F yang digunakan pada J-20 adalah tipe yang sama dengan yang digunakan pada pesawat tempur Su-35. Namun, kinerja mereka tidak sama dengan AL-41F yang dipasang pada Su-57.

AL-41F merupakan modifikasi dari mesin AL-31F, meskipun memiliki efisiensi propulsi yang lebih baik, namun tidak memenuhi syarat untuk mesin tempur generasi ke-5. Rusia sendiri sedang menyelesaikan mesin Izdeliye 30 untuk melengkapi produksi Su-57 berikutnya.

Meskipun Rusia dan China berlomba untuk menyempurnakan mesin untuk jet tempur generasi ke-5, para analis percaya bahwa Rusia akan lebih cepat menyelesaikannya sebelum China.

Dalam konteks saat ini, J-20 terus menggunakan mesin AL-31F dari pada mesin WS-15 buatan domestik, yang dilaporkan masih banyak masalah.

China sangat ingin lepas dari ketergantungannya pada Rusia di bidang mesin pesawat, namun masalah teknis mesin pesawat tempur generasi ke-5, menjadi hal yang sulit.

Angkatan Udara China sendiri telah mengoperasikan J-20 sejak 2017, namun mereka belum mengumumkan jumlah spesifik jet dijuluki sebagai Naga Perkasa ini yang telah beroperasi penuh.

-RBS-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *