Program NGAD AS dapat terganggu bila F-22 tak jadi dipensiunkan

F-22 opens its weapon bayUSAF

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Kongres AS tidak setuju mengenai akan dipensiunkannya 33 pesawat F-22 Raptor oleh Angkatan Udara AS (USAF) sehingga jumlah F-22 yang dimiliki akan berkurang dari 183 menjadi 150 unit.

Kongres beralasan, F-22 masih dibutuhkan dan tak perlu dikurangi jumlahnya.

Namun demikian, dengan tidak jadi dikuranginya jumlah F-22, dapat menyebabkan efek riak pada pengembangan program lain yang telah dicanangkan, seperti jet tempur generasi keenam Next Generation Air Dominance (NGAD), pembom B-21, dan program senjata hipersonik.

Usulan USAF untuk memotong jumlah F-22 adalah bagian dari rencana yang lebih luas untuk mendivestasi 150 pesawat ini pada tahun fiskal 2023 guna membebaskan dana untuk prioritas yang lebih tinggi, kata USAF seperti ditulis Defense News.

Namun, anggota parlemen tidak hanya menolak rencana untuk memotong jumlah pesawat, mereka juga meminta jet model lama yang digunakan terutama untuk misi pelatihan, agar ditingkatkan ke konfigurasi F-22 terbaru.

Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih mengatakan, pihaknya sangat menentang upaya DPR untuk memblokir pesawat yang akan dipensiunkan.

Andrew Hunter, pejabat akuisisi utama Angkatan Udara, mengatakan bahwa mencegah rencana divestasi layanan akan memperlambat kemajuan pada Pesawat Tempur Kolaboratif, yang bertujuan untuk menurunkan armada pesawat tak berawak untuk menambah NGAD dan pesawat tempur lainnya selama misi tempur.

Program ini merupakan salah satu prioritas utama Sekretaris Angkatan Udara Frank Kendall.

“Kekhawatiran saya adalah pada kemampuan kami untuk menghadirkan sistem Pesawat Tempur Kolaboratif untuk melengkapi NGAD. Di situlah saya pikir kita mulai melihat dampaknya,” ujar Hunter kepada wartawan pada 11 Agustus.

Jaden-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *