AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Pada tahun 1993, tak lama berpisah dari Uni Soviet (Desember 1991) Ukraina mulai merancang senapan serbunya sendiri untuk menggantikan keluarga AK-47/AK-74.
Senapan dengan nama Vepr (Celeng) ini dirancang oleh Pusat Litbang Badan Antariksa Nasional untuk rekayasa presisi.
Hingga Oktober 1994, senapan serbu bullpup kaliber 5,54 mm ini hanya dibuat sepuluh unit. Proyeknya pun tak pernah berlanjut hingga masuk jalur produksi.
Namun proyeknya kembali dihidupkan pada 2005, dirancang ulang oleh Interproinvest (IPI) dengan nama baru Malyuk (Small One). Produksinya dipercayakan kepada Pabrik Manufaktur Perakitan Krasyliv.
Pengembangannya didasarkan pada kontrak yang ditempatkan oleh Dinas Keamanan Ukraina pada tahun 2008.
Malyuk sebagian mengadopsi komponen AK-74, menawarkan dua versi kaliber 5,45×39 mm dan 7,62×3 mm. Kapasitas magasinnya berisi 30 butir peluru. Dengan jangkauan tembak efektif hingga 500 m.
Desain Malyuk terlihat kompak, memiliki panjang total 71,2 cm, panjang larasnya saja 41,5 cm dan beratnya 3,8 kg.
Malyuk memulai debutnya pada 2015 di Arms & Security Expo di Kyiv pada 2015 dan di luar Ukraina pada Pameran Industri Pertahanan Internasional di Istanbul, Turki, Mei 2015.
Pada 2016, diketahui sebanyak 200 pucuk Malyuk mulai dikirimkan ke Angkatan Darat Ukraina untuk diujicobakan.
Malyuk pun telah mendapatkan cap battle proven. Senapan serbu ini digunakan pasukan Ukriana menghadapi invasi Rusia sejak Februari 2022.
Dalam perang negara bertetangga ini, Malyuk digunakan oleh unit pasukan khusus Ukraina, Garda Nasional Ukraina, termasuk Batalyon Azov, dan Pasukan Pertahanan Teritorial Ukraina.
Untuk memperluas pasarnya, senapan serbu Malyuk telah ditawarkan ke negara lain, di antaranya adalah Srilanka dan Indonesia pada 2020 silam.
-RBS-
