Kepala Staf USAF: Sistem jaringan kunci revolusi bidang militer

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Sistem jaringan (networks) menjadi kunci revolusi bidang militer. Sistem ini menentukan kecepatan informasi dan pengambilan keputusan yang akan menentukan kemenangan dalam konflik di masa depan.

“Revolusi dalam Urusan Militer” terbaru merupakan pengakuan bahwa informasi dan kecepatan pengambilan keputusan akan menjadi kunci kemenangan dalam konflik di masa depan,” ujar Kepala Staf Angkatan Udara AS (USAF) Jenderal Charles Q. Brown Jr. dalam diskusi panel di The Hill pada 29 Maret 2021.

Selain Brown Jr. dalam diskusi tersebut juga dihadirkan mantan pejabat pertahanan dan anggota Kongres AS.

“Ini adalah revolusi dalam urusan militer. Bukan hanya dari sudut pandang teknis, tapi juga menyangkut pola pikir,” jelas Jenderal Brwon Jr seperti diberitakan Air Force Magazine.

Brown menyakini, bahwa sesuatu yang dilakukan hari ini akan memberikan hasil esok.

Beranjak dari situ, dia pun mendorong pesan “percepatan perubahan atau kehilangan” sebagai salah satu prioritas utama dalam pertarungan di masa depan.

Dalam konflik besar berikutnya, ujar dia, “kabut peperangan” akan jauh lebih akut.

“Kita akan memiliki informasi yang berlebihan atau informasi yang belum tentu jelas,… atau kita dapat terputus.”

Oleh karenanya, lanjut dia, USAF harus menyiapkan dari sekarang agar informasi dan jaringan lebih andal dan bahkan dapat tetap berfungsi walau tidak terhubung jika perlu.

Sementara itu, mantan Menteri Pertahanan pemerintahan Obama Leon E. Panetta mengatakan, AS telah tertinggal dalam hal perlombaan untuk mengambil keputusan yang lebih cepat melalui jaringan 5G dan kecerdasan buatan.

Ditegaskan, fenomena ini sudah datang sejak lama namun AS kurang memperhatikannya.

AS, lanjutnya, tidak berinvestasi secara memadai dalam teknologi tersebut. Sedangkan China, telah banyak berinvestasi untuk hal itu.

“AS tersendat dalam hal upaya agresif untuk selalu berada di depan kurva. Kita harus kembali ke sana,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini pemerintahan Presiden Joe Biden menyadari akan kebutuhan untuk berinvestasi dalam teknologi baru ini untuk pertahanan AS.

Namun demikian, hal ini pun akan memakan waktu lama. Panetta mendesak insentif keuangan pemerintah untuk sektor swasta guna mengejar ketertinggalan tersebut demi untuk melindungi keamanan nasional dan kepentingan internasional.

Senada dengan Panetta, Mantan Wakil Menteri Pertahanan untuk Kebijakan Michèle Flournoy juga mengingatkan bahwa Tiongkok telah meyakinkan diri mereka sendiri dan mengetahui bahwa AS mengalami kemunduran.

Maka dari itu, ujarnya, untuk menghindari kesalahan perhitungan, AS perlu menunjukkan investasi yang kuat dalam pertahanan, terutama dalam hal konektivitas dan komitmennya kepada sekutu.

Tanto Eagle

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *