Tanpa batas waktu, Biden setop penjualan amunisi presisi kepada Arab Saudi

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat yang baru Joe Biden telah menghentikan penjualan amunisi presisi buatan Boeing dan Raytheon kepada Arab Saudi.

Penjualan senilai 760 juta dolar AS itu dihentikan sementara tanpa batas waktu. Hal ini sebagai kebijakan baru AS untuk mengurangan kekerasan di Yaman. Demikian dilaporkan Defense News.

Meski demikian, Presiden Joe Biden membuka kemungkinan untuk penjualan di masa depan yang dianggap vital bagi pertahanan nasional Arab Saudi.

Secara tidak langsung dapat dikatakan, penjualan amunisi di masa mendatang akan terus berlanjut.

“Kami mengakhiri semua dukungan Amerika untuk operasi ofensif dalam perang di Yaman, termasuk penjualan senjata yang relevan,” kata Biden dalam pidatonya di Departemen Luar Negeri.

Ditambahkan, pada saat yang sama Arab Saudi menghadapi serangan rudal, UAV, dan ancaman lain dari pasukan yang disuplai Iran di banyak negara. Dalam hal ini AS akan memberikan perlindungan kepada Arab Saudi.

“Kami akan terus mendukung dan membantu Arab Saudi mempertahankan kedaulatannya dan keutuhan wilayahnya serta rakyatnya.”

Penjualan amunisi dalam penjualan militer asing (FMS) dari AS kepada Arab Saudi mencakup 3.000 bom diameter kecil GBU-39 buatan Boeing atas persetujuan Departemen Luar Negeri AS semasa pemerintahan Presiden Donald Trump pada akhir Desember 2020. Nilainya ditaksir mencapai 290 juta USD.

Sementara penjualan lainnya adalah amunisi buatan Raytheon Technologies berupa 7.000 bom pintar Paveway IV senilai 478 juta USD.

Akibat operasi ofensif di Yaman

Pejabat pemerintahan AS mengatakan, penjualan amunisi dihentikan kepada Arab Saudi untuk operasi ofensif di Yaman. Tetapi, hal ini tidak berlaku untuk ofensif terhadap ISIS dan AQAP.

Seperti diketahui, sejak 2015 kelompok Sunni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah memimpin koalisi di Yaman untuk melawan pasukan pemberontak Houthi yang didukung oleh pemerintah Syiah Iran.

Pada 2014 Houthi berhasil mengambil alih ibu kota Yaman, Sanaa.

Human Rights Watch mencatat, konflik bersenjata di Yaman telah mengakibatkan krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Roni Sont

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *