Kebangkitan Jepang membangun jet tempur sendiri

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Akibat kekalahan Jepang dalam Perang Dunia ll, membuat negara Matahari Terbit ini tak lagi boleh membangun kekuatan militernya secara berlebih. AS dan Sekutunya juga membatasi Jepang untuk membangun industri pertahanannya.

Dengan aturan ini, industri kedirgantaraan Jepang turut merasakan imbasnya. Tak ada lagi ada pesawat tempur yang dibangun di dalam negeri.

Pasca perang di mana era pesawat jet mulai tumbuh pesat di dunia, Jepang hanya dapat membangun jet latih.

Pertama dengan hadirnya Fuji T-1 yang terbang perdana 1958 dan disusul kemudian oleh Mitsubishi T-2 yang mengudara tahun 1971.

Walau pada akhirnya Jepang mendapat kelonggaran membangun jet tempurnya sendiri, itu hanya untuk kebutuhan dalam negeri alias tak boleh mengekspornya ke luar.

Berbasiskan jet latih T-2, tahun 1975 muncullah jet tempur Mitsubishi F-1 yang sukses terbang perdana 3 Juni 1975. Sebanyak 77 unit F-1 dibangun untuk AU Jepang (JASDF).

Memasuki era 1980-an, JASDF mulai melihat kebutuhan jet tempur baru yang memiliki kemampuan yang lebih dari F-1, meski kala itu Jepang telah memiliki McDonnell Douglas F-15J yang dibuat secara lisensi oleh Mitsubishi.

Tahun 1985 Mitsubishi resmi dipercaya sebagai kontraktor utama untuk membangun jet tempur Jepang yang baru dengan meluncurkan program FS-X (Fighter Support Experimental) rancangan sendiri.

Atas tekanan kuat dari AS, ambisi Jepang untuk membangun jet tempurnya sendiri sulit untuk diwujudkan. Jalan tengah diambil di mana Jepang menerima tawaran AS untuk membuat pesawat berdasarkan jet tempur AS. Kala itu ditawarkan menggunakan basis F-16 atau F/A-18.

Baca Juga: Lockheed Martin paling berpeluang dipilih Jepang jadi mitra F-X

Puncaknya ketika pemerintahan Ronald Reagan dan pemerintah Nakasone mengumumkan proyek bersama pada Oktober 1987 dan nota kesepahamannya resmi ditandatangani pada November 1988.

General Dynamics akhirnya terpilih untuk menyediakan teknologi F-16 Fighting Falcon untuk Mitsubishi Heavy Industries dan mendapatkan 45 persen dari pekerjaan pengembangan sebagai kontraktor utama bersama.

JASDF F-2Wikimedia

Mitsubishi F-2.

Jet yang selanjutnya menyandang nama resmi Mitsubishi F-2 ini tak hanya untuk keunggulan udara saja, tapi juga memiliki kemampuan serang maritim yang mumpuni.

F-2 dibangun mengambil basis F-16 versi ‘Agile Falcon’ yang memiliki sayap yang lebih luas 25 persen. Hidungnya juga lebih panjang untuk menempatkan radar AESA J/APG-1.

Penerbangan perdana jet yang digelari sebagai ‘Viper Zero’ ini dilakukan pada 7 Oktober 1995 dan mulai berdinas untuk JASDF tahun 2000. Semula pemerintah Jepang menyetujui pesanan 141 unit namun segera dipotong menjadi 130 saja.

Karena masalah efisiensi biaya, pada 2004 pesanan pesawat kembali dipangkas menjadi 98 unit (termasuk empat prototipe). Perakitan terakhir seluruh pesawat dilakukan di fasilitas pabrik Mitsubishi Komaki-South di Nagoya.

Mencari pengganti F-2

Memasuki milenium baru, JASDF mulai memikirkan pengganti jet F-2 dengan jet gen-5 berkemampuan siluman (stealth). Dicanangkan pesawat juga akan dibangun secara mandiri.

X-2_First_FlightMitsubishi

Mitsubishi X-2 (ATD-X)

Tahun 2007, lagi-lagi Mitsubishi ditunjuk sebagai kontraktor utama dengan dipercaya mengembangkan pesawat teknologi demostrator dalam proyek ATD-X (Advanced Technology Demonstrator- Experimental) yang kelak akan menjadi jet tempur dengan nama F-3.

Prototipe ATD-X dengan panggilan ‘Shinshin’ ini secara resmi diluncurkan 29 Januari 2016. Sukses melakukan penerbangan perdananya pada 22 April 2016, lepas landas dari Bandara Nagoya dan mendarat di Lapangan Udara Gifu JASDF mengudara selama 26 menit.

Meski proyek ATD-X berjalan lancar, tahun 2016 JASDF mulai mendapatkan jet tempur gen-5 Lockheed Martin F-35A dari AS. Tak lama setelah itu, tahun 2018 program ATD-X tak lagi dilanjutkan, Jepang memilih untuk lompat mengembangkan jet gen-6 langsung.

F-X designJapan MoD

Program jet tempur siluman generasi keenam Jepang.

Untuk merealisasikan jet canggih dalam program baru bertajuk F-X ini, Jepang melirik mitra pengembangan dari luar, di antaranya BAE dari Inggris dan Lockheed Martin dari AS.

Diharapkan jet gen-6 yang pengembangannya dimotori oleh Mitsubishi ini akan terbang perdana tahun 2028 dan berdinas untuk JASDF sekitar tahun 2035.

Rangga Baswara Sawiyya

0 Replies to “Kebangkitan Jepang membangun jet tempur sendiri”

  1. Saya rasa ATD-X itu adalah bagian dari program F-X. Kalau lihat gambar di sini, bentuknya mirip dengan DMU28 dari program F-X. Kalau tidak salah singkatan dari Digital Mock Up 28, dimana 28 adalah tahun Heisei 28 (tahun 2016 Masehi). Artinya mereka sudah selesai dengan desain aerodinamis/external selama beberapa tahun.

    Kalau ATD-X sudah berhenti terbang, artinya semua data yg bisa dikumpulkan kemungkinan besar sudah selesai. Mumpung mereka masih mencari partner lain juga berarti ATD-X telah menunjukan keterbatasan dari teknologi yang mereka miliki. Penasaran juga apa teknologi tersebut. Mesin sepertinya memuaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *