Plus-Minus membeli jet tempur Eurofighter Typhoon bekas Austria

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Tanpa bermaksud ikut larut dalam pro-kontra terkait wacana pembelian 15 jet tempur bermesin ganda, Eurofighter Typhoon, bekas pakai Österreichische Luftstreitkräfte (Angkatan Udara Austria) untuk TNI AU, Airspace Review mencoba mengulas plus-minus rencana pembelian ini dari kaca mata teknis maupun strategis dalam kerangka penguatan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AU pada khususnya dan TNI pada umumnya.

Pada tahun 2003 AU Austria mulanya memesan 18 unit jet tempur Typhoon dari konsorsium Eurofighter, yang kini sahamnya dimiliki Airbus (Jerman-Spanyol), BAE Systems (Inggris) dan Leonardo (Italia).

Kontroversi sebenarnya sudah timbul sejak awal pembelian karena harga jet tempur tersebut dianggap terlalu mahal dan bahkan di tahun 2006 pesanan itu sempat akan dibatalkan.

Saat itu sejumlah pesawat sudah masuk proses produksi, namun kisruh berlanjut yang berujung pada pemotongan angka pesanan menjadi 15 unit saja dan semuanya merupakan varian kursi tunggal (single seater). Sementara tiga unit lainnya, yang merupakan varian kursi ganda atau tandem (dual seater), batal diakuisisi Austria.

Pembelian Typhoon oleh Austria berkembang menjadi masalah hukum karena adanya tuduhan korupsi dalam proses pembeliannya. Masalah yang sangat sensitif di Austria tersebut masih belum terselesaikan hingga keluarnya pernyataan pengurangan anggaran militer Austria tahun 2014. Saat itu terkuak berita bahwa biaya pengoperasian Typhoon dinilai terlalu tinggi bagi anggaran Austria, sementara kemampuan canggih jet tempur tersebut sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh negeri yang luas wilayahnya masih lebih kecil dari dua per tiga luas Pulau Jawa.

Tahun 2017 keluar rekomendasi resmi bahwa seluruh armada Typhoon Austria akan dipensiunkan sekitar tahun 2020 dan diganti dengan pesawat tempur yang lebih murah, baik harga beli maupun biaya pengoperasiannya.

Kalau kita bicara mengenai wacana 15 jet tempur Eurofighter Typhoon eks Austria untuk TNI AU, selain ada keuntungannya (faktor plus), tentu perlu dipertimbangkan pula kerugiannya (faktor minus).

Keuntungan yang jelas dan sudah diketahui umum adalah usia pakai Typhoon eks Austria yang masih relatif panjang. Pengetatan anggaran militer Austria menyebabkan Typhoon AU Austria termasuk yang paling jarang diterbangkan di antara negara-negara pemakai Typhoon lainnya.

Kondisi airframe Typhoon Austria pun dikabarkan masih sangat baik karena jet tempur itu hanya difungsikan untuk misi patroli udara di ketinggian menengah hingga tinggi, sehingga stress rangka pesawat akibat terbang rendah dalam latihan misi penyerangan darat bisa dikatakan sangat minim. Dan karena merupakan pesawat bekas pakai, harganya pun seharusnya bisa dinegosiasikan (ditekan rendah) meski usia pakai atau sisa jam terbangnya masih tinggi.

Dari sejumlah sumber yang Airspace Review pelajari, didapat penjelasan bahwa faktor minus yang menjadi perhatian serius justru sebenarnya bukan soal harga maupun biaya pengoperasiannya yang dikabarkan tinggi. Sebab jika bicara biaya yang harus dianggarkan per jam terbang atau CPFH (cost per flying hour), maka jet tempur Su-27/30 Flanker yang dimiliki TNI AU pun CPFH-nya tinggi. Itulah maka kemudian, TNI AU melengkapi armada Su-27/30 dengan simulator yang kini sedang dibangun di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar.

Faktor minus utama justru adalah karena ketiadaan varian tandem (dual seater) dari Typhoon bekas pakai Austria ini. Seperti dikemukakan sebelumnya, seluruh armada Typhoon Austria adalah varian kursi tunggal (single seater).

Akibat ketiadaan varian kursi ganda (tandem) ini, maka konversi dan pelatihan pilot-pilot TNI AU untuk mengawaki Typhoon nantinya akan sangat tergantung pada varian dual seater yang dimiliki negara konsorsium Eurofighter.

Berhubung Typhoon pesanan Austria itu mengikuti model Jerman, kemungkinan besar program konversi dan pelatihan pilot TNI AU (jika Indonesia jadi membeli Typhoon) pun akan diadakan oleh Luftwaffe (AU Jerman).

Hal ini jadi minus utama karena dalam proses konversi serta pelatihan tersebut, kemampuan dan kecakapan pilot-pilot TNI AU akan mudah “terbaca” oleh negara lain.

Eurofighter-Typhoon-Austria-dan-A380-Lufthansa
Markus Zinner/Bundesheer

Di era derasnya arus informasi lewat internet, mudah saja menerka atau membaca kemampuan teknis pesawat tempur manapun. Namun kemampuan dan kecakapan pilot tempur merupakan rahasia yang dijaga ketat oleh negara-negara di dunia.

Berbeda misalnya jika varian tandem (dual seater) dimiliki, maka pilot TNI AU yang “terbaca” kemampuan dan kecakapannya di masa proses konversi atau pelatihan tersebut (di negara lain), hanya akan terbatas pada beberapa orang pilot saja (gelombang awal). Sementara sisanya bisa dilatih oleh pilot TNI AU di dalam negeri, oleh mereka yang sudah lulus program konversi dan pelatihan instruktur di negara lain tersebut.

Faktor minus yang lain adalah kemampuan tempur termasuk avionik Typhoon Austria yang harus diperjelas.

Eurofighter Typhoon diproduksi dalam tiga gelombang produksi (Tranche) yang berbeda kapabilitas tempur serta avioniknya, yaitu terbagi menjadi Tranche 1 (Block 2 dan Block 5), Tranche 2 (Block 8, 10, 15, 20) dan Tranche 3. Typhoon AU Austria sendiri adalah varian Tranche 1 Block 5.

Meski Eurofighter pada tahun 2013 mengumumkan bahwa pihaknya sudah menyelesaikan peningkatan kemampuan (upgrade) Typhoon Austria, perlu diperhatikan kalimat dalam rilis persnya yang berbunyi “…now have the latest capability standard for Tranche 1 aircraft”, yang berarti upgrade tersebut sudah maksimal untuk Tranche 1. Yang perlu ditanyakan adalah. apakah kemampuan Typhoon eks Austria tersebut dapat ditingkatkan setara dengan Tranche 3 (teknologi terkini)?

Minus berikutnya yang cukup sering terlewatkan adalah fakta bahwa perlengkapan avionik pada Typhoon Austria tidak selengkap Typhoon negara pembeli lainnya selain Jerman.

Berhubung pesanan Austria mengikuti model yang sama dengan Jerman, maka Typhoon Austria pun tidak dilengkapi perangkat penjejak pasif IRST (infra red search and tracking system) khas Typhoon yang disebut PIRATE (Passive Infrared Airborne Track Equipment).

Hal itu terjadi karena alasan biaya, yaitu pada saat Typhoon dalam proses pengembangan, Jerman memutuskan absen dalam program pengembangan  perangkat pengendus canggih tersebut.

Itu sebabnya Typhoon AU Jerman tidak dilengkapi PIRATE. Padahal, sensor tersebut merupakan salah satu keunggulan Typhoon, di mana jet tempur itu dapat menjejak pesawat lawan dari jarak jauh tanpa harus menghidupkan radarnya (yang berpotensi diketahui lawan lewat perangkat radar warning receiver). Barulah saat target terkunci, radar bisa dihidupkan tiba-tiba dan memandu rudal udara ke udara menuju targetnya. Perangkat IRST dimiliki oleh jet tempur Rafale, F-35 Lightning II, MiG-29 Fulcrum, dan Su-27/30/35 Flanker.

Tentu kita semua berharap TNI AU akan mendapatkan alutsista terbaik. Di pasaran senjata dunia, banyak jet tempur canggih dan berkemampuan baik, Kementerian Pertahanan yang akan memutuskan, mana yang paling pas dan berkesinambungan dimiliki oleh TNI AU.

Antonius KK

15 Replies to “Plus-Minus membeli jet tempur Eurofighter Typhoon bekas Austria”

  1. Mengapa Indonesia mau membeli alutsista maupun pesawat tempur bekas? Apakah kita tidak mampu beli yang baru? Terlalu kalo kita slalu beli bekas orang

  2. Saya memahami dilema indonesia saat ini, disatu sisi kita perlu meng-upgrade kekuatan militer kita untuk menjaga kedaulatan NKRI, dari para ancaman negara tetangga dikawasan. Tapi disisi lain keuangan negara kita pas-pasan. Oleh karena itu langkah srrategis yg diambil indonesia membeli pesawat tempur bekas sudah tepat. Walaupun nantinya akan ada kemampuan yang kurang maksimal pada pesawat rersebut.

  3. Yang tidak memgerti pespur pasti menyamakan seperti beli toyota avanza bekas taxi 😂. Saya kasih contoh USMC memakai Harier bekas Inggris, memakai F-5E tiger bekas swiss dan negara2 lain. Yang penting masih layak atau tidak. F-35, Osprey ,F 22 yg baru saja juga jatuh. Bomber B29 Strato USAF dari jaman bung karnio ya masih terbang… Yang ada tuh masih layak atau tidak. Dan kalau sampai ingin cepat2 punya 1 skadron tempur, berarti ada masalah gawat. Ada negara yg ingin menguasai zee vietnam, philipine , brunei, malaysia thailand dan indonesia

  4. IMO, baru & bekas ga masalah yg penting layak, maintenance baik, & yg namanya pesawat kl ada yg sdh ga sesuai standart pasti lsg diganti. Seperti F16 kita, bedanya apa sih yg beli baru sm bekas, justru malah yg bekas lebih canggih hehe..

    1. Tranche 1 masih bisa diupgrade seperti FGR2/FGR4 milik RAF ditingkatkan kemampuan air to air & air to ground, atau seperti milik SAF yg diupgrade menggunakan komponen Tranche 2 & 3 tapi radar aesa tetep absen. Seandainya typhoon ini bener deal kemungkinan tidak diupgrade/upgrade minor saja, krn biaya bisa jadi sangat mahal & isunya pesawat ini perlu cepat datang pdhl upgrade perlu waktu.

      yg jadi pertanyaan logistiknya, kedepannya sepertinya kita memiliki banyak tipe pespur sehingga maintenance akan lebih sulit & mahal. malaysia sendiri mau menyederhanakan pespurnya menjadi hanya 2 tipe.

      Just IMHO, kalau typhoon bekas jadi diakuisisi sepertinya ada peluang untuk akuisisi 1 ska lagi tranche 3 di >2024 lebih murah jika dibanding membeli rafale 2 Ska.

  5. Dari analisis yang telah di paparkan oleh Penulis ada baiknya Menhan berfikir untuk Mencari Opsi lain selain Tyhpoon AU Austria

  6. Artikel bagus, baru tahu saya kalau Typhoon Austria tidak pakai PIRATE. Kecuali dapat hibah dengan proyek konversi/upgrade lokal sepertinya tidak layak.

    Pengalaman merubah tiga airframe jadi twin seat trainer mungkin berguna buat proyek IF-X. 12 single seat + 3 twin seat lumayan dekat dengan jumlah standar di skadron TNI AU.

    1. Silahkan dari pada beli f16 buatan AS dan kemudian kena embargo. Tapi…..jangan lupa tetap SU 35 dibeli dan ifx dilunasi

  7. Kalo memang diburu waktu, bekas pun selama masih layak tidak apa, kekurangan fitur, ya wajar, namanya juga bekas. Setelah punya baru diupgrade. Sambil borong su35/53, F15ex, raptor wingman, & menunggu ifx selesai. Sampai pada waktunya kita bisa buat sendiri

  8. ini kadang kadang komentator sering ikut arus antara pro dan kontra tapi belum memahami keseluruhan dari kata antara layak dan tidak layak…!!!
    tidak semudah apa yang kau angap ferguso….pembelian senjata itu tidak sama dengan pembelian smartphond baru apa bekas bukan hanya biayaya akusisi tapi perawatan dan peningkatan(upgrade) serta senjata yang akan diusungnya…oleh karna itu diperlukan kajian secara matang…!!!
    penulis hanya menyertakan pertanyaan apakah masih bisa di upgrade tapi lupa menyertakan pertanyaan apa kah negara konsorsium mendukung pembelian tersebut…dan berapa besar biyaya upgrade tersebut…???
    kerja sama antara PT DI dan AIRBUS itu hitam diatas putih mengacu pada kontrak….jadi jangan samakan hubungan perusahaan dengan hubungan teman atau kekeluargaan…!!!
    tapi kalou hibah apa boleh bulat….harus pula diterima walau berat hati…karna tidak baik menolak kebaikan seseorang(rejeki)apa lagi negara…!!!

  9. Pilihan terbaik dengan kemampuan terbaik dan berkesinambungan untuk berjangka panjang yg diputuskan oleh menteri prabowo cs..semoga

  10. Jet tempur typhoon bekas ini sudah berumur 20 tahun, jelas untuk strategi perencanaan jangka panjang kurang tepat karena sebentar lagi akan ditelan usia dan menjadi rongsokan. Bila kita bandingkan dengan Sukhoi SU-35 dari segala aspek sangat jauh, SU35 mempunyai daya jelajah paling jauh diatas 3000 km, sementara kompetitor lain hanya 1200-1500 km. Begitu pula dengan kecepatan dan persenjataan jauh lebih lengkap dan harganya 1 skuadron SU-35 baru sebesar 15 trilyun sementara Typhoon bekas jauh lebih mahal mencapai hampir 20 trilyun, aneh ini. Sementara sejauh ini kita telah mempunyai SU-27 dan 30, sehingga hal memudahkan sebagai dasarnya kita dalam pengembangan pilot maupun dalam pemeliharaan kedepan dan ini baru realistis.

  11. Laut China Selatan sudah membara. Ancaman perang sudah di depan mata. Beli pesawat baru butuh waktu tahunan untuk dirakit dulu dan transfer technology. Pesawat bekas sudah bisa langsung terbang dan tempur. Di depan ancaman perang begini, jangan berfikir pesawat harus awet 20 tahun lagi. Mungkin bulan depan sudah datang perang, itu pesawat diterbangkan dengan risiko jatoh juga hancur ditembak musuh. Lagipula 15 typhoon ini jelas tidak akan mampu mengcover 2 juta kilometer persegi wilayah Indonesia. Tapi adanya tambahan 15 typhoon jelas jauh lebih bermanfaat daripada tidak ada tambahan sama sekali.

  12. Dan Cina penguasa Nine Dash Line pun tertawa melihat Indonesia sedang ketar ketir mencari armada tempur untuk menghalau kekuatan tempur Negeri Komunis Tirai Bambu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *