Jenderal Pramono Edhie Wibowo, kerendahan hati seorang prajurit Kopassus

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Mengawali karier militernya di TNI Angkatan Darat sebagai Komandan Peleton Grup I Kopassandha selepas lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) tahun 1980, Letnan Dua Infanteri Pramono Edhie Wibowo merupakan salah satu prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang rendah hati.

Sikap rendah hatinya banyak diakui orang lain dan tampak dari pembawaan dia sehari-hari yang low profile hingga pensiun dari TNI AD dan kemudian menjadi politisi, bergabung dengan Partai Demokrat.

“Pelajaran utama bergaul dengan beliau adalah sosok yang sangat sederhana, tidak sombong meskipun seorang jenderal, punya jabatan yang sangat tinggi. Beliau ramah luar biasa dan sangat periang,” ujar Deputi Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrat Andi Nurpati seperti dikutip dari Berita Satu.

Latar belakang keluarganya, dengan nama besar Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, salah satu tokoh militer di Indonesia, tak membuatnya membusungkan dada.

Pramono Edhie Wibowo, dapat dikatakan sebagai prajurit Kopassus sejati karena pengabdiannya di TNI AD juga banyak didedikasikan di Korps Baret Merah.

Usai menjadi Komandan Peleton Grup I Kopassandha, kariernya naik menjadi Perwira Operasi di satuannya tersebut.

Selepas itu, ia menjadi Komandan Kompi 112/11 Grup I Kopassandha tahun 1984.

Tahun 1995 Ia mengikuti pendidikan Seskoad dan kembali ke Kopassus melanjutkan tugas sebagai Kasiops Grup i Kopassus hingga 1996 dan kemudian menjadi Wakil Komandan Grup I/Kopassus pada 1996-1998.

Dari wakil komandan ia mendapat promosi jabatan lagi menjadi Komandan Grup I/Kopassus periode 1998-2001.

Setelah itu, ia dipilih menjadi ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2001 sebelum mengikuti pendidikan Pendidikan Reguler Sesko TNI di tahun yang sama.

Selepas pendidikan Sesko TNI, ia menjabat sebagai Pati Sahli Bidang Ekonomi Sesko TNI pada 2004-2005.

Pramono Edhie yang saat itu telah berpangkat bintang satu, kembali lagi ke lingkungan Kopassus dengan menjabat sebagai Wakil Danjen Kopassus pada 2005-2007. Setelah itu selama satu tahun ia sempat menjabat sebagai Kasdam IV/Diponegoro hingga 2008 dan kembali lagi ke Kopassus dengan jabatan promosi menjadi Danjen Kopassus pada 2008-2009.

Masih di jabatan bintang dua, ia kemudian mengemban jabatan sebagai Pangdam III/siliwangi pada 2009-2010.

Promosi ke bintang tiga selanjutnya diraih oleh Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo sebagai Panglima Kostrad tahun 2010-2011.

Dan, puncak karier militer di TNI Angkatan Darat akhirnya ia capai dengan menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada pada 2011-2013 dengan pangkat bintang empat, jenderal penul. Ia pun pensiun dengan jabatan tertinggi di TNI AD tersebut.

Pada Sabtu, 13 Juni 2020, Pramono Edhiw Wibowo berpulang ke Sang Pencipta setelah terlebih dahulu mendapat perawatan di Rumah Sakit Cimacan, Cianjur, Jawa Barat. Dikabarkan, ia meninggal dunia akibat serangan jantung.

Pramono Edhie Wibowo

TNI AD berduka

Atas berpulangnya mantan KSAD, seluruh jajaran TNI Angkatan Darat menyatakan duka citanya. Hal ini seperti disampaikan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Nefra Firdaus melalui keterangan tertulis yang disampaikan kepada media termasuk Airspace Review.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kabar duka datang dari keluarga besar TNI AD. Mantan Kasad, Jenderal TNI Purn Pramono Edhie Wibowo, meninggal dunia dalam usia 65 tahun, pada hari Sabtu malam pukul 19.30, tanggal 13 Juni 2020 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cimacan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, karena sakit. Almarhum beserta keluarganya sedang berlibur di Kediaman Ds. Ciwalen Kec. Sukaresmi dan mendadak sakit dengan diagnosa serangan jantung,” ujar Kadispenad.

Dijelaskan oleh Kadispenad, saat ini jenazah almarhum masih dalam perjalanan dari di RSUD Cimacan menuju ke tempat persemayaman di Rumah Duka dengan Alamat Puri Cikeas Indah No. 08 RT 03 RW 02 Jl. Alternatif Cibubur Nagrak, Kec Gunung Putri, Bogor 16967, Jawa Barat. Rencananya, besok akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan pada hari Minggu (14/6).

Diungkapkan, Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo, kelahiran Magelang, 5 Mei 1955 merupakan KSAD ke-27 yang menjabat sejak tanggal 30 Juni 2011 hingga  20 Mei 2013. Sebelumnya Almarhum juga pernah menjabat sebagai Pangkostrad, Panglima Kodam III/Siliwangi dan Komandan Jenderal Kopassus

Berbagai tanda jasa kehormatan negara yang dianugerahkan kepada almarhum yaitu Bintang Mahaputra Utama,Bintang Dharma, Bintang Kartika Eka Paksi Utama, Bintang Jalasena Utama, Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi, Darjah Utama Bakti Cemerlang (Tentera/Singapura), Meritorious Service Medal, SL. Dharma Bantala, SL. Kesetiaan XXIV, SL. Kesetiaan XVI,  SL. Kesetiaan VIII, SL. GOM VII, SL. GOM IX, SL. Ksatria Yudha, SL. Seroja, SL. Dwidya Sistha, SL. Wira Karya

Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Ny. Kiki Gayatri dan dua orang anak bernama Patri Astuti Dewi Anggrain dan Dewanto Edhie Wibowo.

“Sebagai bentuk penghormatan dan rasa duka cita yang mendalam atas kepergian Almarhum Jenderal TNI Purn Pramono Edhie Wibowo, seluruh satuan jajaran TNI Angkatan Darat mulai hari Minggu (14/6) selama 7 hari mengibarkan bendera setengah tiang,” pungkas Nefra.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *