Letda Pnb Ravi Rahmat dan Letda Pnb Sandro Imeldo, lulusan terbaik Sekbang TNI Terpadu A-97

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Sekolah Penerbang Tentara Nasional Indonesia Terpadu Angkatan ke-97 (Sekbang TNI Terpadu A-97) telah meluluskan 45 penerbang. Sebanyak 43 lulusan merupakan penerbang untuk TNI Aangkatan Udara dan dua lulusan merupakan penerbang untuk Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Puspenerbad).

Dari 43 siswa penerbang yang berasal dari TNI AU, dua di antaranya adalah Wanita Angkatan Udara (Wara).

Sebanyak 43 penerbang TNI AU tersebut, terdiri dari adalah 15 penerbang yang akan bertugas di skadron tempur, 18 penerbang akan bertugas di skadron angkut, dan 10 orang akan bertugas di skadron helikopter.

Istimewanya, satu Wara masuk menjadi penerbang tempur yang akan bertugas di Skadron Udara 15.

Ini adalah pertama kalinya selama 74 tahun, TNI Angkatan Udara menghasilkan satu penerbang untuk skadron tempur.

Menurut rilis berita Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau), sebelum dilantik sebagai penerbang, para siswa Sekbang terpadu A-97 telah mengikuti tahapan pendidikan berupa Bina Kelas (Ground School) di Skadron Pendidikan (Skadik) 104 dan Bina Terbang Latih Dasar di Skadik 101 dengan pesawat Grob G 120TP-A.

Tahapan berikutnya, para siswa (telah) melaksanakan pendidikan terbang Latih Lanjut.

Untuk jurusan fixed wing pendidikan dilaksanakan di Skadik 102 dengan pesawat KT-1B Woong Bee.

Sementara untuk jurusan rotary wing dilaksanakan di Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang dengan pesawat EC120-B Colibri.

Terpilih sebagai lulusan terbaik jurusan fixed wing adalah Letda Pnb Ravi Rahmat, S.Tr.(Han), sementara lulusan terbaik jurusan rotary wing adalah Letda Pnb Sandro Imeldo, S.Tr.(Han).

Keduanya dianugerahi trofi lulusan terbaik Sekbang oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M.

Upacara Wing Day dilaksanakan di Gedung I.G. Dewanto, Detasemen Markas Mabesau, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (18/5).

KSAU mengatakan, para lulusan diharapkan memegang teguh airmanship. Faktor ini, kata KSAU menjadi faktor utama yang menentukan perjalanan karier seorang perwira sejati.

Menurut KSAU, airmanship merupakan sebuah proses tanpa akhir.

Selama para perwira mengabdi dalam pelaksanaan tugas di udara, maka selama itu pula para perwira harus terus mengembangkan airmanship yang dimiliki, demi tercapainya tugas-tugas TNI di masa kini dan masa yang akan datang.

“Airmanship tidak cukup didapatkan hanya dari pelajaran kelas saja, namun melalui proses pembelajaran berkelanjutan sepanjang karier guna meningkatkan pertimbangan dan kesadaran dalam setiap pengambilan keputusan,” ujar Marsekal Yuyu.

KSAU juga mengingatkan, airmanship adalah pola pikir yang menjadi landasan pengabdian Swa Bhuwana Paksa dalam menjalankan nilai-nilai utama TNI Angkatan Udara.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *