Singkirkan 777X, Qantas Pilih A350-1000 untuk Project Sunrise

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Maskapai negara Australia, Qantas (IATA: QF, ICAO: QFA), telah mengumumkan beberapa hal penting terkait Project Sunrise yang akan ditetapkan pada Maret 2020. Project Sunrise adalah program ambisius maskapai Negeri Kanguru untuk menyediakan layanan penerbangan ultra jarak jauh non-stop 21 jam dari Pantai Timur Australia ke kota-kota besar dunia seperti London, New York, dan Sao Paulo.

Sebelum ini, Qantas telah berhasil menciptakan sejarah baru penerbangan langsung Perth-London selama 17 jam 3 menit menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner pada 24 Maret 2019. Penerbangan QF9 itu menempuh jarak 9.009 mil (14.498 km).

Ada dua pesawat yang sudah dikaji akan digunakan untuk layanan penerbangan Sunrise, yaitu Boeing 777X dan A350-1000. Dan pada Jumat, 13 Desember 2019, Qantas akhirnya mengumunkan akan memilih A350-1000 dan mengesampingkan Boeing 777X.

Kontrak oleh Qantas dengan Airbus memang belum dibuat. Namun demikian, dengan diumumkannya A350-1000 sebagai pesawat yang akan digunakan Qantas untuk Project Sunrise,peluang bagi Boeing sedikit banyak sudah tertutup.

A350-1000

Di satu sisi, Boeing juga masih menghadapi masalah di mana proyek 777X masih mengalami penundaan sehingga proses penerbangan perdana pun belum bisa dilaksanakan. Sementara A350-1000 saat ini sudah digunakan dalam layanan penerbangan komersial.

Qantas menyatakan, akan melakukan pembicaraan lebih intens dengan Airbus untuk pemesanan A350-1000 hingga 12 pesawat.

Dijelaskan, pemilihan A350-1000 telah melewati suatu evaluasi. Pesawat ini menggunakan mesin Rolls-Royce Trent XWB yang sudah terbukti ketangguhannya dalam dua tahun terakhir.

Pesawat pertama A350-1000 diterima launch customer Qatar Airways pada 20 Februari 2018 dan pertama kali digunakan untuk rute Doha-London.

Airbus

Airbus akan memasang tangki bahan bakar tambahan guna menunjang proyek penerbangan matahari terbit Qantas ini. Airbus juga menyetujui perpanjangan tenggat waktu bagi Qantas untuk menentukan jadwal pengiriman pesawat mulai Februari 2020 hingga pertengahan 2023.

Qantas telah melakukan dua kali uji penerbangan Project Sunrise. Uji penerbangan ketiga akan dilaksanakan pada 17 Desember. Begitu selesai, Qantas akan membukukan 60 jam penerbangan Project Sunrise dimana dalam penerbangan tersebut terkumpul ribuan data dari penumpang maupun awak pesawat.

Data dari penumpang penting untuk memberikan gambaran kebutuhan penerbangan 21 jam non-stop. Seperti tata ruang kabin dan luasan ruang untuk gerak badan maupun kaki, terutama di kelas ekonomi.

Airbus

Sementara data dari para kru penting bagi masukan kepada pihak Regulator Penerbangan Sipil. Misalnya, masalah kelelahan awak kabin dan berapa jumlah awak kabin ideal untuk mendukung penerbangan tersebut.

Demikian juga dengan masukan dari pilot. Hal ini penting terkait masalah efisiensi dan produktivitas. Misalnya, apakah pilot yang mengawaki A350 Sunrise juga masih menerbangkan pesawat lainnya seperti A330 di armada Qantas.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *