80 Tahun Perang Musim Dingin Uni Soviet dan Finlandia, Heroisme Semut Melawan Gajah

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Negara kecil Finlandia (dibandingkan Uni Sovet) berhasil mempertahankan teritorialnya dari serbuan pasukan besar Angkatan Bersenjata Uni Soviet. Peristiwa ini dikenang sebagai Perang Musim Dingin (Winter War) yang berlangsung pada 1939-1940. Tahun 2019 ini, perang itu telah berlalu 80 tahun.

Diawali pada 30 November 1939, pasukan Soviet menyerbu Republik Finlandia di bagian timur melalui wilayah Molotov-Ribbentrop yang diklaim sebagai wilayah Uni Soviet.

Dibandingkan dengan kekuatan Uni Soviet, pasukan Finlandia jelas kalah dalam hal jumlah personel militer maupun peralatan perang.

Bandingkan misalnya, kekuatan Finlandia berkisar 340.000 prajurit berbanding 760.000 prajurit Soviet. Finlandia hanya memiliki 32 tank, sementara Soviet berkekuatan 2.500-6.500 tank. Finlandia memiliki 114 pesawat, sementara Uni Soviet memiliki 3.800 pesawat. Dapat dikatakan, perang ini ibarat semut diserbu gajah.

Beberapa hal yang membuat Finlandia unggul, adalah keahlian para prajuritnya dalam bertempur, efektivitas pertahanan dan penyerangan, serta pemanfaatan musim dingin yang sempurna berkisar -43C hingga -45C.

Pasukan Soviet gugur di Winter War
Sa-Kuva

Angkatan Bersenjata Finlandia mengatur strategi dengan baik dalam perang 105 hari itu. Mereka tahu bagaimana caranya menghancurkan satu divisi mekanis Tentara Merah dalam perang di Raate Road.

Keunggulan Finlandia utama lainnya, adalah ‘Semangat Perang Musim Dingin’ yang dapat digambarkan sebagai Semangat Persatuan Nasional. Modal ini menyatukan Finlandia dari disintegrasi bangsa menghadapi invasi Soviet.

Dalam perang ini tercatat kurang lebih 26.000 prajurit Finlandia tewas/hilang. Sementara dari pihak Uni Soviet prajurit yang tewas/hilang mencapai 168.000 orang.

Perang Musim Dingin masih dikenang hingga saat ini dan akan terus dikenang dalam sejarah. Perang ini juga sekaligus melahirkan nama besar di pihak Finlandia. Salah satunya adalah penembak senyap (sniper) Simo “Simuna” Häyhä (1905 – 2002) yang menjadi salah satu sniper paling berbahaya di dunia.

Simo Hayha
Finnish Army

Selama Perang Musim Dingin, Häyhä disebut berhasil merobohkan 542 tentara Soviet menggunakan senapan M-28/30 (varian Mosin–Nagant yang diproduksi di Finlandia) dan Suomi KP/-31 submachine gun yang juga dibuat di dalam negeri. Atas kepiawaiannya itu, ia pun mendapat julukan “Si Ajal Putih”.

Pertempuran bertahan yang sangat heroik bagi Finlandia langsung menarik perhatian internasional saat itu. Jurnalis-jurnalis militer dari berbagai negara pun datang ke Helsinki untuk melakukan peliputan.

Selama perang tiga bulan dan tiga belas hari itu, Finlandia menperoleh simpati dan kekaguman dari seluruh dunia Barat. Namun demikian, tidak ada dukungan militer nyata yang diberikan kepada negara di wilayah Eropa Utara ini.

Finlandia dalam Winter War

Pada akhirnya, perang dihentikan pada 13 Maret 1940 melalui Perjanjian Perdamaian Moskow. Liga Bangsa Bangsa menganggap serangan Uni Soviet ke Finlandia merupakan tindakan ilegal (melawan hukum). Uni Soviet pun dikeluarkan dari organisasi persatuan bangsa-bangsa internasional itu.

Dalam perjanjian tersebut, Finlandia dipaksa menyerah dan menandatangani perjanjian damai. Helsinki pun harus menyerahkan wilayah perbatasannya kepada Uni Soviet.

Keberhasilan Finlandia menekuk serangan-serangan Soviet di wilayah Finlandia dalam Perang Musim Dingin, menarik inspirasi Pemimpin Jerman Adolf Hitler untuk melakukan serangan serupa ke Uni Soviet di musim dingin.

Pasukan Finlandia dalam Winter War
Sa-Kuva

Hitler menganggap, pasukan Soviet akan mudah ditaklukkan saat musim dingin. Prediksi ini meleset karena kesalahan strategi Jerman saat melakukan invasi ke Tanah Beruang yang terkenal dengan nama Operasi Barbarosa, 15 bulan setelah perjanjian damai Uni Soviet-Finlandia.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *