Mengenal Panser Kanon FSV Generasi Awal Milik Yonkav TNI AD (Bagian 1)

AIRSPACE REVIEW (angkasareview.com) – Jauh hari sebelum kedatangan penser kanon modern pemberi dukungan tembakan (FSV) Doosan Tarantula pada 2013 dan Pindad Badak tahun 2019, Batalyon Kavaleri (Yonkav) TNI AD telah mengunakan kendaraan tempur sejenis pada awal 1960-an.

Dua jenis panser kanon buatan negara Eropa Barat tersebut didatangkan semasa persiapan Operasi Trikora guna menyatukan Papua Barat (Irian) ke dalam NKRI.

Yuk, simak ulasan singkat Airspace Review mengenai kedua panser FSV gaek ini:

Panhard EBR FL-11

EBR-FL-11
Istimewa

Panser kanon pertama yang dimiliki Yonkav TNI AD adalah Panhard  EBR FL-11. Keberadaannya memang kurang begitu dikenali karena usia pakainya yang singkat.

EBR FL-11 tiba di Tanah Air bersamaan dengan kedatangan tank ringan AMX-13 dari Perancis  tahun 1962. EBR kala itu dimasukkan ke dalam Yonkav-2 Turangga Ceta, Kodam IV Diponegoro, Semarang.

Ditilik dari penampilannya, EBR FL-11 tergolong unik. Sistem penggeraknya bisa diatur dengan mode 4X4 atau 8X8. Selain empat roda karet di bagian sisi terluar, terdapat pula empat roda besi di bagian tengah yang bisa dinaik-turunkan.

Bila di jalan raya atau jalan datar keras, keempat roda besi dinaikkan ke atas. Sementara melalui jalan berlumpur atau berpasir keempat roda besi bergerigi diturunkan.

Keunikan lain EBR FL-11 yakni memiliki sistem kemudi ganda depan dan belakang dengan dua orang sopir. Dua awak lainnya adalah komandan dan juru senjata yang duduk dalam kubah (turet).

Persenjataan utama EBR FL-11 berupa kanon kaliber 75 mm dengan 56 butir munisi dapat dibawa dalam setiap misi tempurnya.

Panser berbobot 13,5 ton ini dibekali mesin bensin berdaya 200 hp. Kecepatan maksimum EBR FL-11 mencapai 100 km/jam dengan jangkauan operasi sekitar 650 km.

Kiprah EBR FL-11 di Tanah Air kurang terdengar, jumlahnya pun tak diketahui pasti. EBR FL-11 sendiri mulai dipensiunkan pada awal 1970-an.

Beruntung, setidaknya saat ini ada dua unit EBR FL-11 yang masih bisa disaksikan. Pertama di Museum Satria Mandala, Jakarta dan yang kedua menjadi monumen di Pussenkav, Bandung.

Alvis FV 601 Saladin

FV-601-Saladin
Istimewa

Seperti halnya EBR FL-11, panser kanon Alvis FV 601 Saladin 6X6 juga didatangkan dalam rangka persiapan Operasi Trikora, dibeli sebanyak 69 unit.

Panser buatan Alvis, Inggris ini masuk bersamaan dengan 55 unit kendaraan angkut pasukan (APC) FV 602 Saracen 6X6 dan 55 unit kendaraan intai Ferret 4X4.

Kendaraan berbobot tempur 11,6 ton ini diawaki tiga orang yakni pengemudi, komandan, dan juru senjata.

FV-601-Saladin
Istimewa

Didapuk sebagai pemberi dukungan tembakan, Saladin dibekali kanon kaliber 76 mm L5A1 dengan munisi bawaan sebanyak 42 butir.

Guna memperpanjang usia pakai dan meningkatkan kinerjanya, Saladin mendapatkan pergantian mesin yang dilakukan oleh Bengkel Pusat Peralatan TNI AD (Bengbuspalad), Direktorat Peralatan TNI AD (Ditpalad), Bandung.

Mesin bensin bawaan Rolls Royce B80 Mk 6A diganti dengan mesin diesel Perkin Pasher 160T. Selain irit dan bandel, dengan mesin baru ini jarak operasioal Saladin meningkat dari 402 km menjadi 600 km.

Tarantula-Badak
Rangga Baswara Sawiyya

Berkat retrofit tersebut Saladin yang hampir berusia 60 tahun masih dapat diandalkan. Sebagai pengguna saat ini di antaranya adalah Yonkav 2 Turangga Ceta, Yonkav 3 Andhaka Cakti, Yonkav 6 Naga Karimata, dan Yonkav 10 Mendagiri.

Sebagian Saladin secara berangsur mulai tergantikan dengan hadirnya panser kanon Doosan Tarantula dan Pindad Badak. Kedua panser FSV modern ini dibekali persenjataan yang lebih mumpuni yakni kanon kaliber 90 mm.

Rangga Baswara Sawiyya

editor: ron raider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *