Langkah Iran Bangun Industri Militernya dengan Pesat

ANGKASAREVIEW.COM – Dalam kancah politik internasionalnya Amerika Serikat menghadapi sejumlah negara yang dari sisi pengembangan kekuatan militer dapat dianggap sebagai musuh. Negara-negara tersebut di antaranya adalah Iran, Korea Utara (ketegangan mulai mereda), China, dan Rusia.

Keempat negara itu sama-sama dinilai tergila-gila dalam memproduksi rudal balistik yang bisa dimuati hulu ledak nuklir. Mereka pun dapat menggunakannya kapan saja.

Meskipun Iran tidak memamerkan program nuklirnya, negara ini dikenal ingin sekali merudal Israel, Arab Saudi, dan juga AS.

Sejak revolusi Islam Iran (1979) berhasil menggulingkan sistem monarki Iran di bawah pimpinan Mohammad Reza Pahlavi (Shah Iran) yang didukung oleh AS, pemerintah revolusi Islam Iran langsung menjadi rival dengan AS hingga saat ini.

Seperti Korut, Iran juga secara diam-diam mengembangkan program nuklir dan terus mengembangkan kemampuan rudal balistiknya.

Uniknya, rudal balistik Iran yang sedang dikembangkan bermodalkan rudal-rudal AS yang diberikan di era Shan Iran. Misalnya rudal RIM-66 (SM-1) yang dikembangkan menjadi rudal ‘’made in Iran’’ bernama Sayyad-2.

Rudal Sayyad-2 dipergunakan oleh kapal-kapal perang Iran. Tapi berkat pengembangan yang dilakukan oleh militer Iran, Sayyad 2 juga sudah diproduksi massal dan dapat diluncurkan dari sistem pertahanan udara bernama Talash.

Dengan demikian, Sayyad 2  berfungsi juga sebagai rudal darat ke udara (SAM) yang bersifat mobil karena alat peluncurnya bisa menggunakan kendaraan pengangkut.

Dalam perkembangan terkini, Iran sudah  mengembangkan rudal balistik Khorramshahr yang bisa dimuati beragam hulu ledak, termasuk hulu ledak nuklir dan telah sukses diuji coba pada 22 September tahun lalu.

Rudal Khorramshahr yang memiliki jarak luncur hingga 2000 km dan dapat membawa lebih dari satu bahan peledak, dilukiskan oleh militer Iran sebagai senjata masa depan yang mudah menjangkau kawasan Israel dan Arab Saudi.

IranIRNA

Keberhasilan peluncuran rudal balisik Khorramshahr Iran membuat AS makin geram. Apalagi keinginan kuat militer Iran untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan alutsista buatan dalam negeri terus ditingkatkan. Industri pertahanan Iran, Helicopter Support and Renewal Company (IHCR/PANHA) bahkan sudah memperkenalkan produk baru heli multifungsi Saba-248.

Sebagai heli transpor ringan medium dengan dua mesin dan berkursi delapan, Saba-248 dapat dioperasikan untuk melaksanakan berbagai misi seperti angkut penumpang, SAR, fotografi udara, misi pengintaian (reconnaissance), ambulance udara, dan lainnya.

Para pakar penerbangan dari militer Iran dan teknisi sipil yang sudah cukup lama merancang heli multifungsi Saba-248 menekankan bahwa heli produknya juga berkualitas ekspor.

Salah satu target pasar internasional heli Saba-248, menurut Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Hossein Dehgan adalah negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah.

Keberhasilan Iran memproduksi heli multi fungsi Saba-248 memang merupakan langkah besar mengingat pada 2016 Iran masih mengimpor heli ambulance dari Rusia, ANSAT produksi Kazan Helicopter Plant.

Heli ambulance yang dibeli dari Rusia itu memang untuk kebutuhan Kementerian Kesehatan Iran. Namun, heli Saba-248 juga bisa diproduksi sebagai heli ambulance untuk kepentingan sipil dan militer,  sehingga ke depannya kebutuhan heli ambulance bagi Kementerian Kesehatan Iran sudah bisa diproduksi sendiri.

A Winardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *