AIRSPACE REVIEW – Komandan Divisi Infanteri ke-25 Angkatan Darat AS (US Army) yang berbasis di Hawaii, Mayor Jenderal James (Jay) Bartholomees, menyampaikan keluhan mengenai kebutuhan drone kamikaze yang relatif sangat murah namun sangat adaptif di medan pertempuran.
Ia mengatakan hal itu dalam simposium tahunan Asosiasi Angkatan Darat AS (AUSA) 2025 yang berlangsung di Washington, DC, pada 13-15 Oktober.
Jay bahkan mengatakan bahwa US Army tertinggal dalam hal penginderaan jarak jauh dan serangan efek peluncuran.
“Sangat. Kita tertinggal dalam hal penginderaan jarak jauh dan serangan efek peluncuran jarak jauh,” ujarnya menjawab pertanyaan TWZ.
“Saya pikir kita bisa mengejar ketinggalan dengan sangat cepa. Formasi yang kita bangun siap untuk pendaratan kemampuan tersebut,” lanjutnya.
Ditambahkan bahwa sebagai percobaan awal, kompi efek peluncuran akan dibentuk di dalam unit artileri Divisi Infanteri ke-25.
“Kita benar-benar perlu membangun kemampuan ini dengan cepat. Kita perlu mengujinya di wilayah kita; kita juga perlu bekerja sama dengan sekutu dan mitra kita untuk melakukan hal yang sama,” tandas Jay.
Mengacu kembali pada drone Shahed-136 Rusia, Bartholomees mencatat drone ini sangat murah, mudah diproduksi, dan mudah dirakit.
Drone sekali pakai jarak jauh semacam ini, ujarnya, tidak hanya akan membantu sekutu dan mitra regional melindungi wilayah kedaulatan mereka, tetapi juga relevan untuk mempertahankan ruang maritim.
Drone Shahed-136 dibuat oleh Iran dan Rusia membuatnya secara lokal dengan nama Geran. Drone ini digunakan sebagai senjata utama oleh Moskow untuk memorak-porandakan Ukraina setiap hari.
“Kami sedang membangun drone kami sendiri,” kata Jay.
“Kami sudah mulai memproduksi drone serang satu arah, sayap tetap, (tetapi) jangkauan yang lebih jauh jelas semakin sulit dilakukan, di situlah Anda membutuhkan lebih banyak keahlian kelaikan udara,” jelas dia.
Perlu dicatat bahwa, dengan fokusnya pada jangkauan jauh dan efektivitas biaya, drone seperti Shahed sangat relevan dengan kontingensi masa depan di medan Indo-Pasifik di mana Divisi Infanteri ke-25 kemungkinan akan terlibat.
Drone Shahed-136 memiliki jangkauan sekitar 1.000 mil (1.609 km), tergantung pada varian dan muatannya. Tantangan ekstrem di Pasifik membutuhkan senjata serang dengan jangkauan jauh.
Bartholomees mengatakan ia setuju dengan Letnan Jenderal Charles Costanza, Komandan Korps V Angkatan Darat AS, yang juga membahas drone dan kemampuan antidrone di AUSA 2025. (RNS)


Tetap aja kalo yang bikin AS atau negara Eropa ujung ujungnya overengineered, overexpectation, overequipment dan overpriced. Prinsip keep it simple and low cost yet effective gak ada dimereka. Paling bener AS impor dari russia dan China, atau Iran sekalian baru bisa merasakan efektifitas drone kamikaze ala shahed 136.