AIRSPACE REVIEW – Wakil Menteri Pertahanan Ukraina Letnan Jenderal Ivan Havryliuk dalam sebuah wawancara dengan BBC mengatakan bahwa pihaknya masih berharap jet tempur Gripen dari Swedia.
Gripen termasuk di antara pesawat Barat yang diharapkan untuk memperkuat Angkatan Udara Ukraina, selain F-16 dan Mirage 2000.
“Ketika Anda melihatnya di udara di atas Ukraina, Anda akan mengerti,” ujar dia.
Ia tidak menjelaskan apakah Ukraina akan segera menerima jet tempur buatan Saab tersebut atau tidak.
Sebelumnya, Pemerintah Swedia menyatakan bahwa Stockholm hanya dapat mengirinkan jet tempur Gripen ke Ukraina setelah perang Rusia-Ukraina berakhir.
Yang dimaksud oleh Havryliuk adalah jet tempur generasi termutakhir, yaitu Gripen E.
Sementara untuk versi C/D kemungkinan bisa dikirimkan, walapun hal ini pun tergantung pada keputusan politik dan pengaturan logistik yang kompleks.
Pada tahun 2023, Swedia mengizinkan pilot dan teknisi Ukraina untuk menjalani pelatihan pengenalan Gripen, sebuah langkah yang mengisyaratkan kemungkinan potensi di masa mendatang.
Laporan resmi menyatakan bahwa pelatihan pilot dan teknisi Ukraina untuk pesawat Gripen telah berhasil dan Kyiv tinggal menunggu keputusan politik dari Swedia untuk menerima pesawat tersebut.
Angkatan Udara Ukraina di satu sisi akan menghadapi masalah penyediaan suku cadang pesawat lebih besar karena mengoperasikan lebih banyak tipe pesawatnya.
Analis menyoroti, banyaknya model pesawat yang dioperasikan akan meningkatkan biaya pelatihan, pemeliharaan, dan rantai pasokan sehingga menimbulkan risiko bagi standarisasi operasi udara.
Jet tempur Gripen dirancang untuk beroperasi dari landasan pacu darurat dan dengan dukungan minimal, pesawat tempur Saab ini menawarkan sistem peperangan elektronik canggih, radar anti-jamming, dan integrasi penuh dengan senjata NATO, termasuk rudal udara ke udara jarak jauh seperti Meteor.
Kemampuan pesawat tersebut dinlai akan sangat berguna bagi Ukraina dalam skenario pertempuran intensitas tinggi. (RNS)

