AIRSPACE REVIEW – Rusia pada 13 Agustus 2025 mengumumkan penghancuran fasilitas produksi rudal Sapsan Ukraina yang didanai oleh Jerman. Pengumuman ini disampaikan Moskow menjelang pertemuan puncak penting antara Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden AS Donald Trump di Anchorage, Alaska pada 15 Agustus.
Meski baru diungkapkan, diakui bahwa penghancuran fasilitas pertahanan Ukraina tersebut telah dilakukan Rusia pada bulan Juli.
Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menyatakan, kaitan Jerman dengan produksi rudal Sapsan di Ukraina telah dikonfirmasi.
Sebanyak lima fasilitas pertahanan Ukraina yang memproduksi rudal Sapsan beserta senjata lainnya berhasil dihancurkan dalam operasi gabungan dengan Kementerian Pertahanan Rusia.
Rudal Sapsan dikenal juga dengan nama Hrіm-2, Grom, atau OTRK Sapsan. Rudal ini memiliki jangkauan resmi sekitar 500 km (lebih dari 310 mil).
Namun Rusia meyakini rudal tersebut dapat digunakan untuk menyerang target yang berjarak lebih dari 700 km (435 mil), sehingga berpotensi menjangkau ibu kota Moskow.
Kantor berita Rusia TASS melaporkan, FSB dan Kementerian Pertahanan Rusia melakukan misi sabotase untuk menghancurkan fasilitas produksi rudal Sapsan Ukraina.
FSB menyebut operasi tersebut jauh lebih besar daripada “Operasi Jaring Laba-laba” yang dilancarkan oleh Dinas Keamanan Ukraina pada 1 Juni 2025.
Operasi Jaring Laba-laba Ukraina dilaksanakan menggunakan puluhan drone bersenjata yang diselundupkan ke dalam wilayah Rusia.
Drone tersebut digunakan untuk menyerang pesawat-pesawat pengebom berat strategis Rusia di beberapa pangkalan udara Rusia yang beberapa di antaranya berjarak ribuan mil dari garis depan.
“Kerusakan pada kompleks industri militer Ukraina sangat besar, jauh lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkan terhadap Rusia dalam Operasi Jaring Laba-laba yang dilakukan oleh Direktorat Intelijen Utama Kementerian Pertahanan Ukraina,” lapor TASS mengutip dokumen FSB.
Di Pavlograd, sebuah kota di Oblast Dnipropetrovsk (Ukraina timur), sebuah pabrik kimia yang memproduksi bahan bakar padat untuk menggerakkan rudal Sapsan serta memproduksi dan menimbun peluru, bom udara kecil, dan muatan termobarik, menjadi sasaran Rusia.
Sebuah pabrik mekanik di dekatnya yang memproduksi dan merakit rudal, unit propulsi, sistem kendali, dan hulu ledak Sapsan juga berhasil dihancurkan.
Sekitar 580 km ke utara, dua fasilitas di Shostka, Oblast Sumy, Ukraina timur laut, juga terkena serangan.
Salah satunya adalah Pabrik Negara Shostka “Zvezda” yang memproduksi mesiu dan hulu ledak, selain Institut Penelitian Produk Kimia Shostka.
Di sana, bahan bakar roket untuk sistem penyembur api diproduksi dan jenis bahan peledak baru sedang dikembangkan.
Dalam laporannya, FSB juga menyebut Kiev juga hampir mengembangkan dan mengerahkan proyektil jarak jauh untuk melawan Rusia.
Rusia menegaskan bahwa Ukraina menggunakan stok dan pengetahuan teknis Soviet untuk mengembangkan sistem rudalnya sendiri.
Rudal Sapsan Mulai Dikembangkan Ukraina pada Tahun 2014
Ukraina mulai mengembangkan rudal Sapsan pada tahun 2014 dan dua tahun kemudian Arab Saudi bergabung dengan proyek tersebut dengan menginvestasikan 40 juta USD.
Rudal Sapsan berhasil diuji coba untuk pertama kalinya pada Agustus 2024.
Beberapa bulan kemudian, pada 9 November 2024, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa negaranya telah memproduksi 100 rudal Sapsan pertamanya.
Para pakar pertahanan internasional menyimpulkan bahwa rudal Sapsan dapat digunakan untuk menyerang lebih dalam dan lebih dalam ke Rusia.
Beberapa pakar berpendapat rudal itu punya kemiripan dengan R-360 Neptune, rudal jelajah subsonik dengan jangkauan maksimum 1.000 km (620 mil).
Jangkauan maksimum Sapsan yang diakui secara resmi adalah 300 km (190 mil). Rudal ini dilengkapi hulu ledak konvensional seberat 480 kg.
Rudal Sapsan dapat terbang hipersonik dengan kecepatan tertinggi Mach 5,2 (1,1 mil/detik; 1,8 km/detik). Rudal ditenagai oleh mesin propelan padat satu tahap.
Pertemuan Trump dan Putin
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin akan bertemu pada 15 Agustus di sebuah pangkalan militer di negara bagian Alaska, AS.
Kedua pemimpin akan membahas cara dan sarana untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2022.
Trump telah memperingatkan Rusia tentang konsekuensi berat jika Putin gagal mengakhiri perang di Ukraina. Namun, ia belum menjelaskan rencananya jika Putin menolak gencatan senjata.
Media menulis, Presiden Rusia bersikeras menguasai seluruh wilayah timur Ukraina. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Luhansk, Donetsk, Zaporizhia, dan Kherson.
Krimea telah berada di bawah kekuasaan Rusia sejak 2014 ketika Putin mengirimkan pasukannya ke Ukraina untuk pertama kalinya.
Rusia saat ini menduduki hampir 25 persen wilayah Ukraina. Al Jazeera melaporkan, hampir 114.500 km persegi (44.600 mil persegi) wilayah Ukraina berada di bawah kendali Rusia. (RNS)

