AIRSPACE REVIEW – Sebuah prototipe pesawat pengintai tak berawak Rusia pada 8 Juli dilaporkan jatuh menimpa sebuah bangunan perumahan terbang di Kazan.
Drone jumbo bermesin ganda ini mengalami kesalahan sistem navigasi saat uji terbangnya dan menyebabkannya turun perlahan sebelum menabrak bangunan.
Pesawat yang mengalami musibah tersebut diyakini sebagai Altius atau dikenal juga sebagai Altair.
Belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh otoritas pertahanan Rusia mengenai insiden maupun potensi kerusakan di darat.
Mengenai Altius, drone ini dikembangkan oleh Biro Desain Simonov dari Kazan, Republik Tartarstan, Federasi Rusia. Penerbangan perdananya sukses dilaksanakan pada Juli 2016.
Dikategorikan sebagai pesawat tanpa awak kelas berat dari jenis HALE (High-Altitude Long-Endurance), Altius dapat terbang hingga ketinggian maksimum 12.000 m atau setara ketinggian penerbangan pesawat jet komersial.
Jangkauan operasi Altius mencapai 10.000 km atau durasi terbang sekitar 24 jam penuh. Drone ini terbang dengan kecepatan jelajah 150-250 km/jam.
Drone dengan berat lepas landas maksimum (MTOW) hingga 6 ton ini ditenagai sepasang mesin diesel RED A03/V12, masing-masing berdaya 500 hp.
Untuk dimensinya, Altius memiliki panjang badan sekira 11 m dengan serta rentang sayap kurang lebih 28 m.
Altius dikabarkan dapat membawa muatan pengintaian hingga dua ton. Drone ini dilengkapi peralatan optik dan sensor serta synthetic-aperture ground-surveilance radar.
Selain peran ISR, Altius juga akan dikembangkan sebagai drone serang yang memiliki kemampuan dua kali lipat membawa muatan senjata dibandingkan KT Orion. (RBS)

