Ukraina melatih algoritma penargetan AI drone FPV menggunakan pengebom Tu-95 dan Tu-22 Soviet yang ada di Museum Penerbangan Poltava

Ukraina menggunakan museum penerbangan Rusia untuk melatih algoritma AI drone kamikaze (1)Via X

AIRSPACE REVIEW – Keberhasilan Ukraina dalam melakukan serangan tak terduga menggunakan drone FPV yang dipersenjatai terhadap pesawat-pesawat pengebom strategis Rusia, membuat syok banyak pihak, terutama bagi Moskow yang tidak menyangka Kyiv dapat melakukan hal itu.

Rusia sudah berulang kali berhasil dibobol pengamanannya di mana drone-drone Ukraina “dengan leluasa” bisa menembus wilayah udara mereka yang diklaim telah dijaga oleh sistem-sistem pertahanan udara modern.

Kecerdikan dan keuletan Ukraina melawan kekuatan besar Rusia, terlepas dari bantuan negara-negara sekutu terhadap Kyiv, telah mendapatkan perhatian dunia.

Dinas Keamanan Ukraina (SBU) yang memimpin operasi bersandi “Jaring Laba-laba” terhadap Negara Beruang Besar, melakukan persiapan serangan-serangannya dalam waktu yang lama, beberapa bulan hingga lebih setahun lalu.

Sumber-sumber SBU menyatakan secara terbuka di media sosial bahwa Operasi Jaring Laba-laba dipersiapkan selama 18 bulan atau satu setengah tahun lalu.

Diakui bahwa tidak mudah untuk menyusupkan drone-drone FPV yang akan digunakan untuk menyerang pesawat-pesawat pengebom strategis Rusia di pangkalannya yang berjarak ribuan kilometer dari Ukraina. Namun justru di sinilah tantangannya bagi SBU.

Sumber-sumber Rusia mengklaim geolokasi menunjukkan bahwa drone FPV Ukraina yang digunakan dalam serangan pangkalan udara ternyata dirakit di dalam gudang sewaan di 28A Sverdlovsky Trakt, Chelyabinsk, Rusia.

Ukraina tidak mempersenjatai drone-drone itu saat diangkut menuju Rusia, namun kemudian melengkapinya dengan hulu ledak di dalam negeri Rusia.

Gudang sewaan itu terletak di dekat perbatasan Rusia dengan Kazakhstan dan dijadikan jalur pasokan untuk komponen peralatan serangan.

Persiapan berbulan-bulan yang juga dilakukan oleh SBU, adalah melatih algoritma penargetan drone FPV yang akan digunakan untuk menyerang pesawat-pesawat pengebom strategis Rusia.

Salah satu hal yang terungkap juga adalah bahwa SBU melakukan latihan penargetan AI tersebut dengan menggunakan pesawat-pesawat peninggalan Soviet yang dipajang di Museum Penerbangan Jarak Jauh dan Strategis Poltava, di kota Poltava, Ukraina.

Di museum terbuka bekas Pangkalan Udara Poltava-4 tersebut terdapat pesawat pengebom Tu-95 dan Tu-22.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengaku sangat bangga dan senang atas keberhasilan penyerangan armada pesawat pengebom Rusia dan menyebabkan sepertiga armada pembom strategis Rusia ini telah lumpuh.

“Hasil yang benar-benar brilian. Hasil independen dari Ukraina,” ujar Zelensky.

“Setahun, enam bulan, dan sembilan hari dari awal perencanaan hingga implementasi yang efektif. Operasi kami adalah yang paling luas jangkauannya. Orang-orang kami yang mempersiapkan operasi ditarik dari wilayah Rusia tepat waktu,” tambah dia dengan wajah berseri-seri.

Dalam beberapa unggahan di media sosial pada Minggu malam, Zelensky mengucapkan selamat kepada Kepala SBU Vasyl Maliuk atas hasil yang benar-benar cemerlang dari operasi tersebut.

“Kami tidak dapat menceritakan semuanya sekarang, tetapi ini adalah tindakan Ukraina yang pasti akan ada dalam buku teks sejarah,” lanjut dia.

Tidak lama setelah penyerangan dilakukan dan rekaman-rekaman video beredar di media sosial, beredar klaim yang belum terkonfirmasi di mana dari serangan terhadap pangkalan udara Rusia doi Belaya dan Olenya, sejumlah pesawat Rusia berhasil dihancurkan, yaitu terdiri dari 5 Tu-95MS, 2 Tu-22M3, dan satu pesawat angkut militer An-12.

Ukraina menyebut melakukan serangan drone terhadap empat pangkalan udara Rusia. Namun Rusia menyebut serangan itu dilakukan Ukraina terhadap lima wilayah, yaitu di Murmansk, Irkutsk, Ivanovo, Ryazan, dan Amur.

Serangan di Ivanovo, Ryazan, dan Amur berhasil digagalkan, kata Kremlin. Dari sejumlah truk yang digunakan SBU untuk melakukan serangan terhadap pangkalan udara Rusia, beberapa di antaranya gagal mendekati pangkalan.

Sedikitnya empat truk berhasil mencapai tujuannya dan melakukan serangan menggunakan drone FPV.

Zelensky mengatakan, Ukraina mengerahkan 117 unit drone FPV bersenjata untuk melakukan serangan di Minggu pagi itu. Masing-masing drone, ujar dia, diterbangkan oleh pilot masing-masing.

Drone-drone tersebut dibawa dalam kabin kayu yang diangkut oleh truk dan atap truk dapat dibuka dari jarak jauh sebelum drone-drone yang ada di dalamnya diterbangkan.

Salah satu rekaman video di media sosial memperlihatkan sebuah truk pembawa drone yang gagal mencapai tujuannya terlihat berhenti di pinggir jalan. Namun saat truk itu didekati, truk itu meledak oleh sistem yang sepertinya dirancang secara otomatis atau dikendalikan dari jarak jauh.

Serangan drone FPV Ukraina terhadap pesawat-pesawat pengebom strategis Rusia di sejumlah pangkalan udara di Rusia, telah memberikan pelajaran yang berharga bagi banyak pihak.

Penempatan pesawat-pesawat pengebom di ruang terbuka yang tidak terlindung shelter atau hanggar, memudahkan musuh untuk melakukan serangan menggunakan peralatan perang berharga murah namun menimbulkan akibat yang fatal.

Satu pesawat nirawak FPV yang digunakan Ukraina berharga hanya 300–600 dolar AS saja. Sebaliknya, pesawat pengebom strategis Tu-95MS Rusia yang telah dimodernisasi bernilai lebih dari 100 juta dolar AS.

Para pengamat menyebut, Rusia telah mengalami serangan serupa terhadap pangkalan Pearl Harbour milik Amerika Serikat di Hawaii pada 7 Desember 1941.

Pertanyaan berikutnya, balasan apa yang akan dilakukan Moskow terhadap Ukraina? Atau malah sebaliknya, Rusia akan terus menerus terkena serangan tak terduga yang dilakukan oleh Kyiv. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *