AIRSPACE REVIEW – Perusahaan kedirgantaraan Korea (Korea Aerospace Industries/KAI) hampir menyelesaikan perakitan jet tempur KF-21 Boramae versi produksi massal pertamanya.
Saat ini perakitan sedang berlangsung untuk selusin pesawat pesanan gelombang pertama.
Sementara kontrak produksi kedua yang mencakup 20 jet tambahan diharapkan akan ditandatangani pada bulan Juni 2025.
Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) menargetkan untuk memulai pengujian operasional KF-21 versi produksi tersebut pada tahun 2026 setelah selesainya uji terbang dan evaluasi darat.
ROKAF berencana untuk mengakuisisi sebanyak 120 jet Boramae hingga tahun 2032.
Kehadiran jet tempur generasi ke-4,5 ini untuk menggantikan armada pesawat tempur F-4 Phantom ll dan F-5 Tiger ll yang sudah tua sekaligus melengkapi F-35A ROKAF.
Selain digunakan di dalam negeri, KF-21 juga akan diekspor. Negara potensial sebagai penggunanya adalah Peru, Polandia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Filipina, dan Malaysia.
Lalu bagaimana dengan Indonesia yang terlibat sebagai mitra utama pengembang program KF-X/IF-X ini?
Seperti diketahui, Indonesia awalnya menyetujui produksi dalam negeri sebanyak 48 jet tempur Boramae, yang akan dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung.
Namun hingga Mei 2024, Indonesia mengurangi kontribusinya dalam pengembangan pesawat tersebut.
Sebelumnya, Indonesia memiliki saham sebesar 20 persen, namun berkurang menjadi 7 persen saja.
Hingga saat ini belum ada keputusan berapa pesawat yang akhirnya akan diakuisisi dan digunakan oleh TNI Angkatan Udara nantinya. (RBS)


Yah ga jelas sih bayar patungan nya nunggak