AIRSPACE REVIEW – Selain memiliki rudal udara ke udara jarak jauh PL-15, militer China juga memiliki rudal lainnya yakni PL-17 yang dalam kode NATO disebut CH-AA-12 Auger.
Pada Oktober 2022 media pemerintah China melaporkan bahwa PL-17 telah memasuki layanan aktif di Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF).
Rudal yang awalnya dikenal sebagai PL-XX oleh Barat ini, pertama kali diuji tahun 2016 menggunakan jet tempur Shenyang J-11BG dan Shenyang J-16.
Secara khusus PL-17 dikembangkan untuk menarget aset udara bernilai tinggi (HVAA) musuh seperti pesawat tanker dan pesawat peringatan dini dan kontrol udara (AEW&C).
Rudal di luar jangkauan visual (BVR) ini dipandu oleh radar aktif dan diklaim memiliki jangkauan tembak lebih dari 400 km, lebih jauh dibandingkan PL-15 yang hanya 200-300 km.
Secara desain PL-17 jauh lebih besar daripada PL-15. Rudal ini memiliki panjang hampir 6 m dibandingkan 4 m pada PL-15. Dengan fakta ini, PL-17 tak bisa dimuat di ruang senjata internal jet tempur siluman Chengdu J-20.
Selama peluncurannya, PL-17 akan bergantung pada panduan inersia, navigasi satelit, dan tautan data untuk melacak target.
Sedangkan pada fase terminal, rudal akan menyalakan pencari multimode dengan radar AESA aktif, sensor pasif dan IR-homing untuk melacak target secara mandiri.
Rudal yang ditenagai oleh motor roket pulsa ganda ini sanggup meluncur dengan kecepatan 4 Mach atau sekitar 4.900 km/jam.
Saat ini selain PL-17, rudal udara ke udara jarak jauh (BVRAAM) terkuat lainnya adalah AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile dari Amerika Serikat berjangkauan 200 km dan kecepatan 5 Mach.
Sementara dari Rusia adalah rudal Vympel R-37 (NATO : AA-13 Axehead) yang berjangkauan antara 200-400 km dan kecepatan luncur 5 Mach. (RBS)

