AIRSPACE REVIEW – Sebuah jet tempur serang F/A-18 Super Hornet Angkatan Laut AS (US Navy) jatuh ke laut saat sedang ditarik ke hanggar dari atas dek kapal induk USS Harry S. Truman.
Pada saat itu kapal induk melakukan gerakan zig-zag atau manuver tajam dengan kecepatan tinggi untuk menghindari serangan kelompok Houthi Yaman.
US Navy dalam laporannya pada hari Senin mengatakan, kapal induk USS Harry S. Truman berbelok tajam untuk menghindari serangan drone dan rudal Houthi di Laut Merah.
Pengerahan kapal induk USS Harry S. Truman ke Laut Merah sebagai bagian dari operasi besar militer AS untuk melawan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Dalam insiden tersebut, semua personel di atas dek USS Harry S. Truman selamat dan hanya seorang yang mengalami cedera ringan.
“F/A-18E sedang ditarik ke hanggar ketika kru yang bergerak kehilangan kendali atas pesawat. Pesawat dan traktor penarik jatuh ke laut,” bunyi pernyataan US Navy.
Ditambahkan bahwa pesawat dan traktor penariknya telah tenggelam ke dasar laut.
Terkait rincian mengenai belokan tajam yang dilakukan oleh kapal induk untuk menghindari tembakan Houthi belum dirilis.
US Navy telah mengerahkan tim investigasi untuk menyelidiki secara detail insiden tersebut.
Kapal induk US Navy terbiasa melakukan manuver zig-zag untuk menghindari serangan musuh.
Laman Departemen Pertahanan AS, misalnya, memperlihatkan kapal-kapal besar itu dapat membawa muatan banyak saat sedang melakukan belokan tajam berkecepatan tinggi sekalipun.
Carl Schuster, mantan perwira US Navy mengatakan kepada CNN bahwa kapal induk biasa melakukan gerakan zig-zag atau serangkaian putaran 30 hingga 40 derajat secara bergantian.
“Setiap putaran membutuhkan waktu sekitar 30 detik, tetapi putarannya dimulai dengan tajam. Seperti mengendarai mobil yang bergerak zig-zag,” ujarnya.
“Kapal miring sekitar 10 hingga 15 derajat ke arah putaran, tetapi kapal bergeser sekitar 100 hingga 200 yard dari titik tujuan jika kapal bergerak dengan kecepatan maksimum,” tambah Schuster.
Amerika Serikat mengerahkan kapal induk USS Harry S. Truman (CVN-75) ke Laut Merah sebagai pangkalan bergerak bagi jet-jet tempur yang ditugaskan untuk menyerang Houthi.
Ini adalah kapal perang terbesar di dunia dengan panjang hampir 1.100 kaki (335,28 m) dan bobot hampir 100.000 ton.
Didukung oleh dua reaktor nuklir yang menggerakkan empat poros baling-baling, kapal induk kelas Nimitz tersebut dapat bergerak di lautan dengan kecepatan lebih dari 34 mph (29,5 knot)
Februari lalu, kapal induk Harry S. Truman bertabrakan dengan kapal dagang di dekat Mesir. Tidak ada korban luka yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Kemudian, jet tempur F/A-18 Super Hornet Angkatan Laut AS yang lain juga “salah tembak” dan ditembak jatuh oleh kapal penjelajah USS Gettysburg di Laut Merah pada bulan Desember tahun lalu. Beruntung, kedua pilot berhasil melontarkan diri dengan selamat.
Kapal-kapal Angkatan Laut AS lainnya di Laut Merah turut menjadi sasaran tembakan Houthi.
Dalam beberapa minggu terakhir, pemerintahan Presiden Donald Trump telah meningkatkan serangan udara terhadap target-target Houthi di Yaman. Hal ini memicu ancaman balasan terhadap kapal-kapal perang AS oleh kelompok itu.
Houthi pada hari Senin menuduh serangan udara AS telah menghantam penjara yang menampung migran Afrika di Yaman yang menewaskan 68 orang. (RNS)


Nhebayangin kapal gambot bermanuver zigzag ngeri juga. Houthi BEP lah pake rudal balistik bisa ngejatuhin F 18 walopun gak langsung.