Lebih cepat dari rencana, Korea Selatan akan kandangkan seluruh jet tempur F-5 pada 2027
ROKAF AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) secara resmi mengumumkan langkah besar dalam transformasi kekuatan udaranya dengan mempercepat jadwal pensiun seluruh armada jet tempur F-5 Tiger II miliknya.
Berdasarkan rencana terbaru, jet tempur buatan Amerika Serikat yang telah mengabdi selama lebih dari lima dekade ini akan sepenuhnya dikandangkan pada tahun 2027, tiga tahun lebih awal dari target semula yang ditetapkan pada tahun 2030.
Keputusan krusial ini diambil bukan tanpa alasan. Faktor usia pesawat yang sudah sangat tua menjadi pertimbangan utama bagi para petinggi militer di Seoul.
Dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran mengenai keselamatan pilot terus meningkat seiring dengan munculnya risiko kelelahan struktur pesawat (metal fatigue) dan sulitnya mendapatkan suku cadang asli untuk pesawat yang pertama kali diperkenalkan ke Korea Selatan pada pertengahan 1970-an tersebut.
Jenderal Son Seok-rak, Kepala Staf Angkatan Udara Korea Selatan, dikutip media Korea Selatan menegaskan bahwa menjaga keselamatan personel dan kesiapan tempur adalah prioritas yang tidak bisa ditawar lagi.
Memajukan jadwal pensiun F-5 juga merupakan langkah taktis untuk mempercepat transisi menuju kemandirian pertahanan udara melalui proyek jet tempur lokal, KF-21 Boramae.
Dengan menghentikan operasional F-5 lebih awal, ROKAF dapat merealokasikan anggaran perawatan yang selama ini membengkak untuk mendukung produksi massal KF-21.
Pesawat generasi 4.5 buatan dalam negeri ini diproyeksikan akan mengisi kekosongan kekuatan yang ditinggalkan oleh F-5, sekaligus memberikan lompatan teknologi yang signifikan bagi militer Korea Selatan.
Selain KF-21, visi modernisasi Seoul mencakup integrasi teknologi masa depan yang lebih ambisius. Di bawah kepemimpinan Jenderal Son, Korea Selatan mulai serius mengarahkan fokus pada pengembangan skuadron tempur berbasis kecerdasan buatan (AI) dan sistem pesawat tanpa awak (drone).
Rencana jangka panjang ini melibatkan konsep Manned-Unmanned Teaming (MUM-T), di mana pilot manusia nantinya akan terbang berdampingan dengan unit tempur robotik yang otonom.
Langkah berani ini menandai akhir dari sebuah era di langit Semenanjung Korea.
Sejak diperkenalkan, armada F-5 telah menjadi garda terdepan dalam merespons provokasi udara dan menjaga kedaulatan negara.
Namun, seiring dengan dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks, Korea Selatan memilih untuk tidak lagi menoleh ke belakang.
Dengan menetapkan tahun 2027 sebagai garis finis bagi F-5, ROKAF kini sepenuhnya memusatkan energi mereka untuk membangun kekuatan udara yang lebih cerdas, tangguh, dan berbasis teknologi tinggi. (RF)

