AS siapkan program New Heavy Bomber sebagai pengganti pengebom B-52 di masa depan
USAF AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) segera memulai studi formal pada tahun 2027 untuk menetapkan persyaratan teknis bagi pesawat pengebom berat masa depan.
Langkah ini menandai dimulainya upaya jangka panjang untuk mencari penerus atau pendamping bagi pesawat pengebom legendaris B-52 Stratofortress.
Aviation Week mengutip dokumen permintaan anggaran tahun fiskal 2027 melaporkan, program yang dikenal sebagai New Heavy Bomber akan dimulai dengan studi kelayakan bertajuk Analysis of Alternatives (AoA). Tujuannya memberikan opsi bagi para pengambil keputusan sebelum proses pengadaan kompetitif dimulai.
“Analisis alternatif pengebom berat baru akan memulai aktivitas perencanaan awal untuk mengembangkan parameter kinerja utama, atribut sistem, dan atribut kinerja tambahan untuk pengebom berat berikutnya di USAF,” bunyi kutipan yang tercantum dalam dokumen anggaran.
Meskipun studi dimulai dalam waktu dekat, kemunculan fisik pesawat pengganti ini diperkirakan baru akan terjadi 10 hingga 15 tahun setelah kebutuhan operasional disetujui.
Untuk tahap awal pada tahun 2027, USAF telah mengajukan anggaran sebesar 1 juta USD (sekitar Rp16 miliar) untuk mengembangkan persyaratan teknis tersebut.
Studi New Heavy Bomber juga mencakup integrasi berbagai senjata canggih, seperti rudal jelajah jarak jauh (JASSM) dan rudal antikapal (LRASM), guna memastikan dominasi udara Amerika Serikat tetap terjaga di masa depan.
Saat ini, strategi serangan jarak jauh AS bertumpu pada modernisasi besar-besaran armada yang ada.
USAF sedang berinvestasi puluhan miliar dolar untuk menghadirkan pengebom siluman Northrop Grumman B-21 Raider, yang diproyeksikan menggantikan pengebom B-1B Lancer dan B-2 Spirit.
Di sisi lain, pengebom Boeing B-52 yang sudah beroperasi sejak era Perang Dingin tetap akan dipertahankan.
Pesawat ini sedang menjalani proses peningkatan menjadi varian B-52J, yang mencakup penggantian mesin dengan Rolls-Royce F130 dan modernisasi sistem radar.
Rencananya, AS akan mengoperasikan armada campuran yang terdiri dari 76 unit B-52J yang telah ditingkatkan dan setidaknya 100 unit B-21 baru.
Dengan peningkatan ini, B-52 diharapkan tetap relevan hingga setidaknya tahun 2050, menjalankan misi serangan jarak jauh dari luar jangkauan pertahanan udara musuh. (RF)

