Gantikan Wagner, Africa Corps Rusia manfaatkan Aljazair untuk kuasai jalur logistik Sahel

Il-76MD-90AUAC

AIRSPACE REVIEW – Rusia dilaporkan telah mengadopsi dan memperluas strategi yang sebelumnya dijalankan oleh Grup Wagner untuk memperkuat pengaruh militer dan geopolitiknya di Benua Hitam.

Berdasarkan laporan terbaru, Moskow kini memanfaatkan Aljazair sebagai pusat transit (hub) udara rahasia guna mengamankan jalur logistik persenjataan menuju wilayah Sahel.

Laporan dari United24 Media menyebutkan bahwa operasi yang dulunya dikelola secara semi-privat oleh mendiang Yevgeny Prigozhin, kini telah sepenuhnya diintegrasikan ke dalam struktur resmi Kementerian Pertahanan Rusia melalui unit yang dikenal sebagai Africa Corps.

Sebagai mitra pertahanan lama Moskow, Aljazair memegang peranan krusial dalam rantai pasokan ini.

Rusia menggunakan pesawat angkut militer berat untuk memindahkan kargo dari wilayahnya menuju pangkalan-pangkalan di Aljazair.

Dari titik tersebut, peralatan militer didistribusikan ke negara-negara seperti Mali, Burkina Faso, dan Niger.

Langkah ini dianggap sebagai strategi jitu untuk menghindari pengawasan ketat yang biasanya terjadi pada jalur maritim.

Dengan menggunakan jembatan udara di Aljazair, Rusia dapat menyuplai berbagai kebutuhan militer, mulai dari amunisi hingga sistem nirawak (drone), kepada rezim di Sahel yang kini semakin menjauh dari pengaruh Barat, terutama Prancis.

Pemanfaatan Aljazair sebagai hub memberikan keuntungan diplomatik bagi Rusia.

Moskow dapat mempertahankan “penyangga” (buffer) yang memungkinkannya membantah keterlibatan langsung dalam ketegangan regional, sembari terus memperkuat posisi tawar di wilayah yang kaya akan sumber daya alam tersebut.

Para analis militer berpendapat bahwa penguasaan jalur logistik ini merupakan upaya sistematis Rusia untuk menantang dominasi Amerika Serikat dan sekutunya di Afrika Utara.

Dengan Africa Corps yang lebih terorganisir dibandingkan Wagner, efisiensi pengiriman logistik tempur diperkirakan akan meningkat secara signifikan.

Africa Corps dikendalikan langsung oleh GRU (Glavnoye Razvedyvatelnoye Upravlenie), yaitu badan intelijen militer Rusia. Hal ini dilakukan karena misi mereka di Afrika bersifat sangat politis, klandestin, dan strategis, bukan sekadar operasi militer konvensional.

Personelnya terdiri dari tentara kontrak profesional. Meskipun mereka mengenakan seragam yang sering kali mirip dengan Angkatan Darat Rusia dan menggunakan alutsista standar militer Rusia, mereka beroperasi sebagai unit ekspedisi khusus.

Aktivitas logistik udara yang masif ini memicu kekhawatiran terkait stabilitas kawasan.

Pasokan senjata yang mengalir melalui jalur-jalur tertutup dikhawatirkan akan memperpanjang konflik internal di negara-negara Sahel dan memperburuk situasi keamanan yang sudah rapuh akibat ancaman kelompok militan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Aljazair tetap pada posisi resminya sebagai negara netral, meskipun kerja sama teknis militer dengan Rusia terus menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan di tengah pergeseran geopolitik global. (PN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *