AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dilaporkan berencana untuk menambah lima unit Boeing E-7A Wedgetail.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk memulihkan dan memodernisasi kemampuan Peringatan Dini dan Kontrol Udara (AEW&C) yang saat ini mulai menua.
Sekretaris Angkatan Udara, Troy Meink, menyampaikan rencana tersebut dalam sebuah subkomite DPR pada akhir April 2026.
Pembelian lima unit baru ini akan menambah dua unit purwarupa yang sebelumnya sudah dikontrak, sehingga total armada E-7A yang dipesan USAF menjadi tujuh unit.
Masa depan program E-7A sempat diragukan pada tahun lalu setelah Pentagon sempat menarik rencana awal untuk mengakuisisi 26 unit pesawat.
Saat itu, muncul wacana untuk beralih ke solusi berbasis satelit dan penggunaan pesawat E-2D Hawkeye milik Angkatan Laut AS guna menghemat biaya.
Keputusan AS yang sempat goyah tersebut bahkan memicu NATO untuk membatalkan rencana pembelian enam unit E-7A mereka sendiri.
Namun, intervensi dari Kongres AS melalui undang-undang alokasi anggaran tahun fiskal 2026 memastikan program ini tetap berjalan dengan memberikan dana tambahan untuk pengembangan dan pengadaan terbatas.
E-7A Wedgetail merupakan pesawat yang dikembangkan dari platform Boeing 737-700. Keunggulan utamanya terletak pada radar Multi-role Electronically Scanned Array (MESA) yang mampu memberikan cakupan 360 derajat untuk mendeteksi serta melacak target di udara dan laut secara bersamaan.
Pesawat ini diproyeksikan untuk menggantikan armada Boeing E-3 Sentry (AWACS) era Perang Dingin yang sudah mulai sering mengalami masalah perawatan dan kesulitan suku cadang.
Dibandingkan pendahulunya, E-7A menawarkan biaya operasional yang lebih rendah dan tingkat kesiapan misi yang lebih tinggi.
Total investasi USAF untuk program ini kini diperkirakan mencapai hampir 5 miliar USD (sekitar Rp80 triliun), mencakup biaya pengembangan, manufaktur, dan integrasi sistem misi.
Meski jumlah tujuh unit masih jauh dari kebutuhan awal sebanyak 26 unit, langkah ini dianggap krusial untuk menjaga kelangsungan jalur produksi Boeing dan memastikan AS tetap memiliki keunggulan taktis di ruang udara modern.
Saat ini, pesawat E-7 Wedgetail telah dioperasikan oleh beberapa negara sekutu AS, termasuk Australia, Korea Selatan, dan Turkiye, serta sedang dalam proses produksi untuk Inggris. (RW)

