Polandia menguji detektor drone akustik buatan Norwegia, menggunakan sensor pasif untuk menangkap suara drone lawan

Discovair G2+Squarehead Technology

AIRSPACE REVIEW – Militer Polandia sedang menguji teknologi antidrone yang rencananya akan dikerahkan di sepanjang perbatasan timurnya dikenal sebagai program Perisai Timur (Tarcza Wschód).

Sebanyak tujuh sistem deteksi drone akustik diuji di Lapangan Tembak Angkatan Udara Pusat Ustka di pantai Baltik, pada 22 April 2026.

Pemerintah Polandia telah mengalokasikan dana sebesar 6,86 miliar euro pada tahun 2026 untuk pengadaan drone dan sistem antidrone.

Dari tujuh sistem yang diuji minggu lalu, salah satunya adalah Discovair G2+ yang dikembangkan oleh perusahaan asal Norwegia, Squarehead Technology.

Discovair G2+ merupakan sebuah sensor akustik yang dibangun dengan serangkaian mikrofon yang terarah.

Sistem ini akan mendeteksi, melacak, dan mengklasifikasikan drone dengan menganalisis tanda suara mereka daripada emisi frekuensi radio atau penampang radarnya.

Pendekatan deteksi akustik yang diwakili oleh Discovair G2+ mengatasi kesenjangan yang telah dihadapi oleh perencana militer Polandia dan rekan-rekan mereka di seluruh NATO, seiring dengan evolusi peperangan drone.

Sensor antidrone konvensional terutama bergantung pada deteksi frekuensi radio, yang mengidentifikasi sinyal kontrol antara drone dan operatornya, dan radar yang mendeteksi keberadaan fisik obyek di udara.

Kedua pendekatan tersebut memiliki keterbatasan yang telah dipelajari oleh pihak lawan untuk dieksploitasi.

Drone yang telah dimodifikasi untuk menghilangkan emisi RF, beroperasi pada jalur penerbangan telah diprogram sebelumnya tanpa komunikasi aktif, tidak menghasilkan sinyal yang dapat ditemukan oleh detektor RF.

Di medan dengan bayangan radar atau gangguan darat yang signifikan, drone kecil dapat terbang rendah dan bergerak melalui celah pepohonan akan sulit dideteksi, meskipun dalam jangkauan radar.

Sementara, sensor akustik yang mendeteksi suara yang dihasilkan oleh motor dan rotor drone (suara yang tidak dapat dimatikan atau dihilangkan) akan menutup kedua celah tersebut secara bersamaan.

Discovair G2+ menggunakan susunan mikrofon terarah dan analisis sinyal yang dibantu kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi tanda suara drone bahkan di lingkungan yang penuh gangguan akustik, termasuk kebisingan sekitar dari angin, kendaraan, dan aktivitas manusia.

Hebatnya lagi, sistem ini menggunakan sensor pasif yang tidak menghasilkan emisinya sendiri, sehingga tidak terdeteksi oleh operator drone lawan yang memindai tanda elektronik dari sistem antidrone aktif.

Drone yang terbang ke arahnya, menghasilkan suara yang memicu deteksi, dan pihak operator Discovair G2+ mengetahui kehadiran drone tersebut datang, namun lawan tak mengetahui keberadaannya. (RBS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *