AIRSPACE REVIEW – Perusahaan pertahanan Prancis, MBDA dan Safran, berhasil menguji coba peluncuran roket THUNDART untuk pertama kalinya pada 14 April 2026.
Uji coba yang berlangsung di lokasi uji Ile du Levant inj untuk memvalidasi desain propulsi sistem serta pilihan rekayasa utama. Kedua perusahaan mengonfirmasi kinerja roket melebihi proyeksi.
Sistem propulsi untuk THUNDART dikembangkan oleh Roxel, yang sekarang menjadi anak perusahaan MBDA sepenuhnya.
Sebelumnya Roxel memiliki pengalaman dalam memproduksi motor propelan padat untuk varian Eropa dari roket berpemandu GMLRS, keluarga yang sama digunakan dalam sistem HIMARS dan M270.
Sedangkan kit pemandunya berasal dari program AASM (Armement Air Sol Modulaire) — lebih dikenal sebagai HAMMER, senjata udara ke darat modular yang dikembangkan Safran — menggunakan arsitektur pemandu INS/GPS.
Roket berpemandu THUNDART dirancang untuk mencapai jarak lebih dari 150 km, atau dua kali lipat dibandingkan M31 yang digunakan oleh sistem LRU Angkatan Darat Perancis saat ini.
Proyek roket artileri jarak jauh Prancis ini diluncurkan DGA pada tahun 2023, dikenal sebagai program FLP-T (Frappe Longue Portée Terrestre atau Serangan Darat Jarak Jauh)
Dua kontestan mengikuti program ini, di mana MBDA dan Safran bersaing melawan konsorsium Thales dan ArianeGroup.
Ditargetkan pemilihan pemenang kompetisi program FLP-T diumumkan tahun 2026 ini, selanjutnya memasuki tahap produksi dan pengiriman dimulai pada 2030.
THUNDART didapuk untuk menggantikan sistem roket LRU (Lance-Roquettes Unitaires) milik Angkatan Darat Prancis yang sudah tua.
Untuk diketahui, LRU adalah sebutan di militer Prancis untuk sistem peluncur roket multi laras (MLRS) M270 yang diakusisi dari Amerika Serikat.
Saat ini Angkatan Darat Prancis hanya mengoperasikan lima unit dari sembilan yang awalnya dimiliki. Dengan empat unit diantaranya telah dihibahkan kepada Angkatan Bersenjata Ukraina. (RBS)

