Cegah pengkhianatan baru: Iran meminta Rusia jadi penjamin kesepakatan dengan Amerika

Menlu Iran Abbas Arraghchi temui Putin di St. PetersburgTASS

AIRSPACE REVIEW – Belajar dari kegagalan diplomasi masa lalu, Iran mengambil langkah strategis untuk mengamankan komunikasi dengan Amerika Serikat.

Dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung pada Sabtu, 27 April 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg guna memosisikan Moskow sebagai penjamin (guarantor) utama agar Washington tidak lagi melanggar komitmen secara sepihak.

Simbolisme kuat mewarnai kedatangan Araghchi di Rusia. Ia tiba menggunakan pesawat dengan tagar “Minab 168”, sebuah pengingat akan 168 siswa yang menjadi korban serangan Amerika-Israel terhadap sebuah sekolah di Iran selatan pada 28 Februari lalu.

Simbol ini menegaskan posisi Teheran di mana Iran bersedia berunding namun tidak akan menerima syarat “menyerah tanpa syarat” dari Amerika Serikat.

Seperti dilaporkan Izvestia, Araghchi mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah menawarkan Iran untuk melanjutkan negosiasi.

Setelah mengunjungi Islamabad dan Muscat, Araghchi memilih St. Petersburg sebagai titik koordinasi kunci.

Strategi “multi-vektor” ini menunjukkan Iran tidak ingin bergantung pada satu mediator saja. Teheran telah meminta Oman sebagai jendela komunikasi dengan AS, namun mempercayai Rusia sebagai jangkar keamanan.

Selain Putin, turut hadir dalam pertemuan dari pihak Rusia adalah Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov, Ajudan Kepresidenan Yuri Ushakov, dan Kepala GRU/Intelijen Militer Rusia Igor Kostyukov.

Sementara dari pihak Iran, selain Araghchi adalah Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi dan Duta Besar Iran untuk Moskow Kazem Jalali.

Pada awal pembicaraan, Putin menyatakan bahwa ia telah menerima pesan khusus dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, meski ia memilih untuk merahasiakan isinya.

Dalam kesempatan tersebut, Putin juga memuji keberanian rakyat Iran dalam memperjuangkan kedaulatan negara. Putin juga berjanji untuk mengupayakan terciptanya perdamaian di kawasan.

“Kami akan melakukan segalanya yang memenuhi kepentingan Anda dan kepentingan semua orang di kawasan ini, agar perdamaian dapat dicapai secepat mungkin,” tegas Putin kepada Araghchi.

Iran dilaporkan membawa proposal konkret dalam upaya meredakan ketegangan dengan AS. Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian permusuhan.

Sebagai imbalannya, Iran meminta penundaan negosiasi program nuklir selama 10 tahun.

Langkah ini mendesak karena harga minyak dunia sempat melonjak melewati 109 USD per barel. Di sisi lain, Iran juga memberikan peringatan keras melalui forum PBB tentang kemungkinan menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) jika agresi AS dan Israel terus berlanjut.

Bagi Iran, kerja sama strategis dengan Rusia adalah harga mati. “Rusia selalu mendukung kami, dan kami selalu mendukung Rusia,” ujar Araghchi.

Dengan menghadirkan Kepala Intelijen Militer Rusia dalam pertemuan tersebut, Iran berupaya memastikan bahwa kesepakatan apa pun dengan Amerika Serikat kali ini memiliki jaminan keamanan yang nyata, mencegah terjadinya pengkhianatan komitmen seperti yang terjadi di masa lalu. (AF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *