AIRSPACE REVIEW – Perusahaan teknologi pertahanan asal Rusia, Rosel Holding, bagian dari korporasi negara Rostec, resmi memperkenalkan sistem gangguan navigasi drone terbaru bernama Vika.
Sistem ini dirancang oleh perusahaan Sozvezdie untuk memberikan perlindungan menyeluruh terhadap serangan pesawat tanpa awak (UAV)/drone pada objek vital dan wilayah strategis.
Sistem Vika menonjol karena arsitektur klasternya yang mampu mencakup area secara penuh.
Sistem ini memiliki cakupan 360 derajat dengan mengerahkan enam hingga delapan unit perangkat, masing-masing alat mencakup sektor pengintaian dan gangguan radio sebesar 60°.
Hal ini memastikan tidak ada celah bagi drone untuk masuk. Vika juga mampu memblokir berbagai saluran komunikasi satelit global, termasuk GPS (Amerika Serikat), GLONASS (Rusia), Galileo (Eropa), maupun BeiDou (China).
Begitu target terdeteksi, sistem akan menganalisis kekuatan sinyal dari berbagai arah untuk menentukan lokasi presisi drone sebelum melakukan jamming elektronik yang terukur.
Salah satu fitur unggulan Vika adalah kemampuannya untuk beroperasi dalam dua mode, yaitu manual (berdasarkan target eksternal) dan otomatis (menggunakan detektor saluran radio internal).
“Sistem ini memungkinkan proses jamming hanya dilakukan saat ancaman terdeteksi. Hal ini sangat krusial untuk menjaga keamanan infrastruktur perkotaan tanpa mengganggu fungsi elektronik di sekitarnya,” tulis pernyataan resmi Rostec.
Berkat otomasi operasional dan dampak sektoral yang akurat, sistem Vika diproyeksikan untuk menjaga keamanan berbagai fasilitas kritis, mulai dari instalasi industri hingga fasilitas militer, guna meminimalisir risiko serangan drone yang kian marak. (AF)

