Negosiasi alutsista: Pilot Angkatan Udara Vietnam jajal jet tempur Rafale di Prancis

Pilot Vietnam jajal Rafale di PrancisIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Rakyat Vietnam (VPAF) dikabarkan telah mencapai tahapan lanjut dalam negosiasi pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan Prancis.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa pilot VPAF telah melakukan penerbangan evaluasi menggunakan jet tempur Dassault Rafale.

Uji coba jet tempur Rafale dilaksanakan di Prancis sejak awal tahun ini dan laporan puncaknya muncul pada April 2026 ini.

Langkah Vietnam menandai fase kritis dalam proses akuisisi, di mana Hanoi mulai menilai secara langsung aspek operasional, performa, serta integrasi logistik dari pesawat tempur generasi keempat plus ini.

Keputusan Vietnam untuk melirik jet tempur Barat merupakan bagian dari strategi diversifikasi militer yang lebih luas. Selama ini, Vietnam sangat bergantung pada peralatan militer asal Rusia.

Prioritas utama dari kemungkinan akuisisi ini adalah untuk menggantikan armada jet tempur tua Sukhoi Su-22 yang sudah ketinggalan zaman.

Saat ini, diperkirakan masih ada sekitar 25 hingga 30 unit Su-22 yang beroperasi, namun kemampuannya dalam peperangan elektronik dan integrasi sensor sudah tidak memadai untuk menghadapi tantangan tempur modern.

Dassault Rafale dipilih sebagai kandidat kuat karena kemampuannya yang serbaguna (omnirole).

Pesawat ini mampu menjalankan berbagai misi sekaligus, mulai dari supremasi udara, serangan darat, hingga pengintaian dan pencegatan maritim.

Dilengkapi dengan radar AESA, sistem fusi data canggih, dan paket peperangan elektronik yang mutakhir, Rafale akan memberikan lompatan teknologi yang signifikan bagi Angkatan Udara Rakyat Vietnam (VPAF).

Selain aspek teknis, potensi pembelian ini memiliki bobot geopolitik yang besar.

Di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan, Vietnam berupaya meningkatkan kemampuan deterensi (penangkalan) untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan Asia Tenggara.

Bagi Prancis, kesepakatan ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan Indo-Pasifik.

Jika kontrak ini terealisasi, Vietnam akan menyusul negara-negara lain seperti India dan Indonesia yang telah lebih dulu memilih Rafale sebagai tulang punggung kekuatan udara mereka.

Hingga saat ini, proses evaluasi masih berlangsung. Kehadiran Rafale di langit Vietnam diyakini akan mengubah peta kekuatan udara di Asia Tenggara. (RW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *