AIRSPACE REVIEW – Militer Filipina mulai mengintegrasikan sistem rudal jelajah supersonik BrahMos dalam skenario serangan maritim pada latihan gabungan dengan Amerika Serikat, bersandi Balikatan 2026.
Direktur Latihan dari Filipina, Mayjen Francisco Lorenzo, menjelaskan bahwa keterlibatan rudal buatan India-Rusia tersebut baru sebatas simulasi penembakan dalam lingkungan konstruktif.
Latihan ini menjadi momen bagi Resimen Pertahanan Pesisir Korps Marinir Filipina untuk menguji prosedur operasional dan kesiapan sistem sejak senjata tersebut tiba pada April 2024.
Meskipun belum ada peluncuran rudal fisik (live firing), seluruh sensor dan sistem kendali tembak diaktifkan sepenuhnya untuk mensimulasikan respons terhadap target di Luzon Utara.
BrahMos dipilih menjadi andalan pertahanan pantai Filipina karena kecepatan supersoniknya yang mencapai Mach 2,8, sehingga sangat sulit diintersep oleh sistem pertahanan lawan.
Dengan jangkauan sekitar 290 km, rudal ini dirancang untuk menutup celah kerentanan di wilayah perairan zona ekonomi eksklusif Filipina.
Sistem ini juga mengadopsi teknologi fire and forget yang memungkinkannya mengejar target secara mandiri setelah data sasaran dimasukkan ke dalam komputer rudal.
Selain BrahMos, latihan tahunan antara Manila dan Washington ini juga menguji sinergi dengan sistem rudal Typhon dan NMESIS milik Amerika Serikat.
Letjen Christian Wortman dari pihak AS mengonfirmasi bahwa koordinasi berbagai platform canggih ini sangat krusial karena potensi kekuatannya akan jauh lebih besar jika diterapkan bersama.
Kehadiran BrahMos di Balikatan 2026 mempertegas langkah modernisasi pertahanan Filipina dalam menghadapi dinamika keamanan maritim di kawasan tersebut.
Sebagai informasi tambahan, latihan gabungan Balikatan 2026 merupakan iterasi ke-41 dari latihan militer tahunan terbesar antara Filipina dan Amerika Serikat yang berlangsung dari akhir April hingga awal Mei 2026.
Fokus utama latihan tahun ini adalah penguatan pertahanan eksternal melalui operasi multidomain yang mencakup wilayah darat, laut, udara, ruang angkasa, hingga keamanan siber.
Dengan melibatkan lebih dari 17.000 personel, latihan ini tidak hanya diikuti oleh kedua negara utama, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari Australia, Kanada, Prancis, Selandia Baru, serta Jepang yang untuk pertama kalinya mengirimkan kontingen besar sebagai peserta penuh.
Signifikansi strategis Balikatan 2026 terlihat pada lokasi simulasi yang difokuskan di wilayah utara Luzon dan perairan yang menghadap Laut China Selatan.
Berbagai alutsista canggih dikerahkan, mulai dari kapal fregat modern hingga sistem rudal anti-kapal seperti Tomahawk dan NMESIS, yang digunakan dalam simulasi penenggelaman kapal sasaran sebagai bagian dari uji coba pertahanan pesisir terpadu.
Selain aspek tempur, latihan ini juga memperingati 75 tahun Mutual Defense Treaty (MDT) antara AS dan Filipina, sembari tetap menyertakan misi bantuan kemanusiaan dan pembangunan infrastruktur sipil bagi masyarakat lokal di wilayah kepulauan tersebut. (RW)

