AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Serbia bersiap untuk meluncurkan fasilitas produksi pesawat tanpa awak (drone) bersama perusahaan pertahanan asal Israel, Elbit Systems.
Langkah ini menandai penguatan signifikan dalam kerja sama militer antara kedua negara di tengah lonjakan ekspor senjata Serbia ke Israel.
Seperti dilaporkan Haaretz, pabrik baru ini akan berlokasi di zona industri Šimanovci, sekitar 30 km di sebelah barat ibu kota Belgrade.
Fasilitas tersebut akan dioperasikan sebagai perusahaan patungan (joint venture) di mana Elbit Systems memegang 51% saham, sementara eksportir senjata negara Serbia, SDPR, memegang 49%.
Presiden Serbia, Aleksandar Vučić, sebelumnya telah mengisyaratkan proyek ini pada Maret 2026. Ia menyatakan bahwa pabrik tersebut akan memproduksi “UAV paling serius di dunia.”
Fasilitas ini direncanakan akan memproduksi dua jenis utama drone, yakni drone serang jarak pendek dan drone jarak jauh yang mampu beroperasi pada ketinggian hingga 6.000 m.
Kemampuan drone baru ini dilaporkan akan melampaui model Pegasus yang saat ini dimiliki Serbia.
Dikatakan bahwa tujuan utama dari kemitraan ini adalah transfer teknologi, di mana para insinyur dari Serbia, termasuk dari produsen pesawat UTVA, akan dilibatkan secara langsung guna memperoleh keahlian teknis dari pihak Israel.
Kerja sama ini muncul di saat hubungan perdagangan militer kedua negara sedang berada di puncaknya.
Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, ekspor senjata Serbia ke Israel dilaporkan meningkat drastis hingga 42 kali lipat, mencapai nilai 114 juta euro.
Selain proyek drone, Serbia juga terus mengembangkan alutsista mandiri lainnya, seperti amunisi loitering (drone bunuh diri) Gavran 145 yang diperkenalkan pada pameran senjata EDEX 2025.
Dengan jangkauan 150 km dan kemampuan menembus lapisan baja tank, Gavran 145 menunjukkan ambisi Serbia untuk menjadi pemain kunci dalam teknologi sistem tak berawak di kawasan Balkan.
Pabrik hasil kerja sama dengan Elbit Systems ini diperkirakan akan mulai beroperasi segera pada bulan April ini. (RNS)

