AIRSPACE REVIEW – Amerika Serikat dilaporkan mengalami kerugian besar setelah kehilangan sebanyak 24 unit drone MQ-9 Reaper dalam rangkaian operasi militer melawan Iran hingga saat ini.
Laporan yang dihimpun dari CBS News dan Militarnyi mengungkapkan bahwa intensitas konflik meningkat tajam pada awal bulan ini, di mana delapan unit drone jatuh hanya dalam kurun waktu satu minggu saja.
Angka kerugian ini melonjak drastis dibandingkan data per 9 Maret 2026 yang sebelumnya mencatat 11 unit jatuh, menandakan adanya eskalasi pertempuran udara yang semakin sengit dan berisiko bagi aset tak berawak milik Pentagon.
Kehilangan puluhan drone canggih ini membawa dampak finansial yang sangat besar bagi militer AS , dengan estimasi total kerugian mencapai 720 juta dolar (setara Rp11,5 triliun), mengingat harga per unit MQ-9 Reaper berkisar di angka 30 juta dolar.
Meskipun biaya pengadaannya sangat tinggi, Washington terus mengandalkan Reaper untuk misi-misi krusial seperti intelijen, pengawasan, serta serangan presisi terhadap objek vital Iran, mulai dari situs rudal balistik, pangkalan udara, hingga sistem pertahanan udara lawan.
Tingginya tingkat jatuhnya drone ini menjadi catatan serius bagi efektivitas sistem pertahanan udara Iran di tengah serangan masif yang dilancarkan pihak AS dan sekutu sejak akhir Februari lalu.
Meskipun MQ-9 Reaper dikenal memiliki teknologi mutakhir dengan kemampuan terbang tinggi hingga 15.000 m dan durabilitas terbang lebih dari 24 jam, medan tempur yang padat akan teknologi pengacak dan rudal permukaan ke udara tampaknya mulai memberikan tekanan besar bagi dominasi udara Amerika di kawasan tersebut.
MQ-9 Reaper, yang awalnya dinamakan Predator B, merupakan pesawat nirawak (UAV) tempur paling ikonik yang dikembangkan oleh General Atomics Aeronautical Systems Inc. (GA-ASI).
Berbeda dengan pendahulunya, MQ-1 Predator, yang lebih banyak berfokus pada pengintaian, Reaper dirancang khusus sebagai mesin pembunuh yang tangguh dengan daya tahan terbang yang luar biasa.
Dari sisi teknis, Reaper adalah monster di kelasnya. Drone ini ditenagai oleh mesin turboprop berkekuatan 900 HP, yang memungkinkannya membawa beban hingga 1,7 ton, termasuk sensor canggih dan persenjataan berat.
Drone ini mampu mengudara selama lebih dari 24 hingga 30 jam tanpa henti, merayap di ketinggian mencapai 15.000 meter, sehingga sulit dideteksi secara visual atau didengar dari daratan.
Reaper ditakuti karena drone ini juga dilengkapi dengan sistem penargetan multispektral yang memiliki sensor inframerah, kamera TV siang hari yang sangat tajam, serta laser penunjuk sasaran.
Untuk urusan serangan, Reaper memiliki enam titik gantungan senjata yang biasanya dipersenjatai dengan rudal AGM-114 Hellfire, bom berpemandu laser GBU-12 Paveway II, dan GBU-38 JDAM. (RNS)

