Diplomasi Blue House: Prabowo sebut Korea Selatan sahabat Indonesia, rencana akuisisi KF-21 akan ditindaklanjuti

KF-21 nomor 006KAI

AIRSPACE REVIEW – Di bawah naungan Blue House yang bersejarah, Presiden Prabowo Subianto resmi memancangkan tonggak baru dalam peta diplomasi Asia Timur saat bertemu Presiden Lee Jae Myung di Seoul pada Rabu (1/4).

Kunjungan kenegaraan ini menjadi pernyataan politik yang tegas bahwa Indonesia siap membawa kemitraan dengan Korea Selatan ke level yang jauh lebih dalam.

Di hadapan Lee, Prabowo menekankan betapa krusialnya posisi Seoul dalam radar diplomasi Jakarta.

“Bagi saya, kunjungan kenegaraan pertama ini sangat penting. Saya menganggap Korea sebagai sahabat dekat Indonesia dan saya ingin meningkatkan kerja sama ini,” ujar Prabowo dikutip dari rilis BPMI Setpres.

Narasi yang dibawa Presiden Prabowo kali ini terasa lugas namun hangat, menekankan bahwa persahabatan sejati harus dibangun di atas kejujuran dan keterbukaan demi menjaga hubungan yang konstruktif.

Visi besarnya adalah menyinergikan dua kekuatan yang saling melengkapi sebagai sesama negara maritim di kawasan Pasifik.

“Kita berdua adalah negara di Pasifik. Kita berdua adalah negara perdagangan. Kita membutuhkan hubungan yang baik untuk kesejahteraan ekonomi kedua negara kita, dan mungkin kita memiliki peran yang saling melengkapi,” ungkap Presiden RI.

Prabowo melihat kemajuan pesat Korea Selatan di bidang industri, sains, dan teknologi sebagai pasangan sempurna bagi sumber daya alam melimpah serta pasar rujukan yang dimiliki Indonesia.

Namun, di balik ambisi ekonomi tersebut, tersirat kesadaran mendalam terhadap situasi geopolitik yang dinamis.

Prabowo mengingatkan bahwa kolaborasi ini adalah jangkar stabilitas, seraya berujar, “Kunjungan kenegaraan saya ke sini berlangsung di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian dan bahaya. Oleh karena itu, hubungan antarnegara seperti Indonesia dan Republik Korea menjadi semakin penting.”

Langkah strategis ini pun segera ditindaklanjuti dengan instruksi konkret kepada jajaran menteri untuk merealisasikan transisi menuju kemitraan komprehensif yang lebih berdampak nyata.

Presiden menginginkan sinergi ini menjadi hasil yang bisa dirasakan oleh rakyat kedua negara, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas.

Prabowo menutup arahannya dengan pesan kuat, di mana ia meminta para menteri kabinetnya untuk berupaya mewujudkan peran yang lebih tinggi ini.

Pesan dari Seoul menjadi sinyal terang bahwa Indonesia dan Korea Selatan tengah merajut masa depan yang akan menentukan arah kemakmuran di seluruh kawasan Indo-Pasifik.

Kelanjutan KF-21 Boramae

Sementara itu, Tempo mengutip pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mendampingi Presiden RI dalam kunjungan kenegaraan tersebut melaporkan bahwa Presiden Prabowo membahas kelanjutan kerja sama proyek jet tempur KF-21 Boramae.

Dikatakan bahwa Prabowo menekankan komitmennya untuk segera mengirim tim ke Korea Selatan sebagai bentuk tindak lanjut kerja sama pengembangan pesawat tempur itu.

“Bapak Presiden menyampaikan akan segera mengirim tim, baik itu yang sifatnya technical maupun engineering,” ujar Airlangga.

Seperti diketahui, Korea Selatan dan Indonesia melakukan kemitraan dalam pengembangan jet tempur KF-X/IF-X yang disepakati di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010 silam.

Proyek itu kemudian berlanjut di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, dan masih berlangsung hingga Presiden RI dijatab oleh Prabowo Subianto.

Total investasi dalam proyek yang diluncurkan pada 2015 ini mencapai 8,1 triliun won (setara Rp 95,32 triliun).

Dari jumlah itu, Indonesia mulanya menanggung 20 persen atau senilai 1,6 triliun won. Sisanya, pemerintah Korea Selatan menanggung 60 persen dan 20 persen lainnya oleh Korea Aerospace Industries (KAI).

Proyek KF-21 sempat tertunda karena penundaan pembayaran dari pihak Indonesia. Pada 2025, Korea Selatan akhirnya sepakat memangkas kontribusi Indonesia menjadi 600 miliar won saja.

Airlangga Hartarto berujar, masih ada sejumlah isu teknis yang perlu dibahas, termasuk ihwal spesifikasi pesawat.

Selain itu, Indonesia juga berharap adanya skema pembayaran baru. “Tetapi harapannya ini akan diselesaikan dengan dikirimnya tim ke sana,” kata Airlangga.

Sekitar dua pekan sebelum kunjungan kenegaraan Prabowo ke Korea Selatan, kantor berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan rencana ekspor 16 unit jet tempur KF-21 ke Indonesia.

Jumlah tersebut lebih sedikit dari rencana awal Jakarta yang akan mengakuisisi sebanyak 48 unit. (RNS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *