AIRSPACE REVIEW – Perang antara AS-Israel vs Iran kini telah memasuki babak baru yang bisa memutarbalikkan keadaan, yaitu perang atrisi. Masalahnya bukan lagi sekadar siapa yang punya teknologi tercanggih, melainkan siapa yang lebih dulu kehabisan amunisi.
Negara-negara Teluk, seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi kini berada di garis depan dalam menghadapi hujan rudal balistik dan drone Shahed yang diluncurkan Iran.
Dampaknya? Stok rudal pencegat Patriot dunia kini berada di titik kritis.
Seperti telah Airspace Review paparkan sebelumnya, secara teori untuk menjatuhkan satu rudal musuh, dibutuhkan minimal dua rudal Patriot. Namun, di lapangan, kenyataannya bahkan jauh lebih boros.
Sejauh ini, mengacu pada sumber terbuka, minimal sebanyak 800 rudal balistik Iran telah ditembakkan ke arah negara-negara Teluk.
Artinya, sedikitnya 1.600 rudal Patriot sudah dilepaskan untuk menangkis serangan tersebut, karena negara-negara Teluk tersebut tidak mau mengalami kehancuran lebih besar.
Bahkan, ada laporan yang berkembang menyebutkan hingga empat rudal Patriot harus digunakan untuk menghentikan satu rudal Iran yang sudah dimodifikasi dengan teknologi Rusia.
Asumsikan saja informasi tersebut terkinf, maka total penggunaan rudal Patriot bisa mencapai 2.400 unit.
Efek Domino Terhadap Ukraina
Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa krisis rudal Patriot menjadi masalah besar bagi AS dan negara-negara Barat lainnya?
Sebab, satu rudal yang digunakan untuk menangkal rudal balistik di Teluk Persia, artinya hilang satu peluang rudal untuk dikirimkan ke Ukraina.
Jangakan untuk digunakan mendukung Ukraina, Amerika Serikat bahkan membutuhkan tambahan rudal-rudal sistem pertahanan udara ini untuk terus bertahan menghadapi gempuran rudal-rudal Iran.
Baru-baru ini kami juga memberitakan bahwa AS telah memindahkan sistem MIM-104 Patriot dan bahkan sistem THAAD dari pangkalan mereka di Semenanjung Korea, seperti Pangkalan Udara Osan, untuk dikirim ke Timur Tengah.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyatakan pihaknya tidak bisa menahan keputusan Washington tersebut meskipun ada kekhawatiran akan celah keamanan di Asia.
Pengalihan ini dilakukan untuk mendukung Operasi Epic Fury yang digelar AS dalam menyerang Iran sejak tanggal 28 Februari 2026.
Karena intensitas serangan rudal balistik Iran yang sangat tinggi, rata-rata mencapai 10 rudal per hari, stok di Timur Tengah menipis dengan sangat cepat. Ini pula yang menjadi salah satu kecemasan AS di tengah peningkatan serangan udaranya terhadap Iran.
Dengan kondisi seperti itu, tak dapat dimungkini bila Ukraina saat ini harus “bersaing” dengan negara-negara Teluk untuk mendapatkan rudal pencegat PAC-3 MSE yang produksinya sangat terbatas.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahkan sempat menyebutkan bahwa dalam waktu singkat di Timur Tengah, jumlah rudal Patriot yang digunakan sudah melampaui total rudal yang diterima Ukraina sejak awal invasi Rusia.
Selain dari Asia, sistem Patriot juga digeser AS di wilayah Eropa. Baru-baru ini, sebuah sistem Patriot dikirim ke Malatya, Turkyei, untuk melindungi radar penting NATO dari ancaman rudal Iran yang mulai meluas.
AS saat ini dapat dikatakan sedang melakukan “tambal sulam” pertahanan global. Mereka terpaksa menarik senjata dari wilayah yang relatif “tenang” seperti Korea Selatan untuk memadamkan api yang sedang berkobar hebat di Timur Tengah.
Ini pula yang sekaligus membuat sekutu AS di wilayah lain, yakni Ukraina dan Taiwan, merasa was-was. Jangan dilupakan, bahwa Israel juga yang paling ketar-ketir menghadapi serangan rudal Iran, walau hal ini tidak terlalu terekspose ke permukaan karena ketatnya pemblokiran berita dari Tel Aviv dan kota-kota lainnya di Israel.
Laporan intelijen menyebutkan AS bisa kehilangan 15% hingga 20% dari total cadangan strategisnya hanya dalam hitungan minggu jika tempo serangan Iran tetap tinggi.
Stok rudal Patriot tidak bisa disediakan dalam waktu cepat, karena ini berkaitan dengan kapasitas produksi perusahaan yang membuatnya juga terbatas.
Dilaporkan bahwa kapasitas produksi rudal Patriot setiap tahunnya berkisar di angka 500-650 uinit. Tahun 2024, produksi rudal ini mencapai kurang lebih 500 unit. Tahun 2025 meningkat menjadi 620 unit dan tahun 2027 target produksinya baru mencapai 650 unit.
Jika Iran menembakkan rata-rata 10 rudal balistik per hari, dan AS/Sekutu butuh minimal 20 rudal pencegat untuk menangkisnya, maka kebutuhan bulanan rudal Patriot mencapai 600 rudal.
Sedangkan kapasitas produksi bulanan hanya 51 unit. Artinya AS mengalami defisit setiap bulannya dan dunia kehilangan stok sebanyakl 549 rudal, yang tidak bisa langsung diganti oleh pabrik. (RNS)

