AIRSPACE REVIEW – Jet tempur China yang tersohor baru-baru ini, Chengdu J-10C Vigorous Dragon, akan tampil untuk pertama kalinya di pameran kedirgantaraan Singapore Airshow 2026 pada 3-8 Februari.
Pesawat tersebut merupakan bagian dari tim aerobatik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF), August 1st atau Ba Yi dalam bahasa Mandarin.
August 1st (Ba Yi) Aerobatic Team, nama ini dipilih dari tanggal 1 Agustus 1927, yang merupakan hari peringatan peristiwa Pemberontakan Nanchang.
Peristiwa tersebut dianggap sebagai momen lahirnya Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Angka “8-1” (Bulan 8, Tanggal 1) menjadi simbol suci bagi seluruh cabang militer China, termasuk PLAAF.
Sebelumnya, Ba Yi Aerobatic Team menggunakan pesawat J-10A dan kemudian beralih menggunakan J-10C.
Media China melaporkan, tujuh pesawat J-10C telah tiba di Singapura pada 27 Januari. Penerbangan pesawat ini disertai oleh pesawat pengisian bahan bakar di udara, Xian Y-20A.
Tim aerobatik Ba Yi dijadwalkan melakukan serangkaian manuver formasi selama pameran berlangsung, termasuk penerbangan formasi multipesawat dan aerobatik yang disinkronkan. Tim 1 Agustus terakhir kali tampil di Singapore pada Singapore Airshow 2020.
Penampilan di Singapura kali ini menjadi sorotan tersendiri setelah J-10CE Pakistan pada Mei 2025 dilaporkan berhasil menjatuhkan jet tempur Rafale India dalam konflik militer kedua negara.
Para pejabat militer Pakistan mengklaim pesawat J-10CE menembakkan rudal udara ke udara jarak jauh PL-15 buatan China dalam menembak sejumlah pesawat Angkatan Udara India, termasuk Rafale.
J-10C merupakan pesawat tempur multiperan kursi tunggal dari generasi Generasi 4,5. Pesawat ini merupakan evolusi tercanggih dari keluarga J-10, yang dirancang untuk menandingi jet tempur Barat seperti F-16 Block 70/72 dari AS dan Rafale dari Prancis.
Pesawat bersayap delta ini dilengkapi canard untuk meningkatkan kelincahan manuvernya di udara.
Sementara lubang asupan udara (air intake) dirancang khusus untuk mengurangi jejak radar (RCS) dan meningkatkan efisiensi aliran udara pada kecepatan supersonik.
Berbeda dengan J-10A, J-10C telah dilengkapi radar Active Electronically Scanned Array (AESA) yang mampu melacak banyak target secara simultan dan ketahanan tinggi terhadap gangguan elektronik (jamming).
Pesawat juga dilengkapi sensor fusi, yaitu sistem yang mengintegrasikan data dari berbagai sensor untuk memberikan gambaran situasi tempur yang jernih kepada pilot melalui Helmet-Mounted Display (HMD).
Kelengkapan lainnya adalah Infra-Red Search and Track (IRST), yaitu sensor di depan kokpit yang memungkinkan pesawat melacak musuh secara pasif tanpa menyalakan radar, sehingga tidak terdeteksi oleh lawan.
Dalam hal persenjataan, J-10C dilengkapi rudal jarak jauh PL-15 berpemandu radar dengan jangkauan hingga 200 km, lebih jauh dari jangkauan rudal AIM-120D milik AS.
Sementara untuk rudal udara ke udara jarak pendek terdapat PL-10 dnegan sistem pemandu pelacak panas yang sangat sensitif. Rudal ini juga mampu ditembakkan ke target yang berada di samping pesawat (off-boresight).
J-10C dielngkapi 11 titik gantung (hardpoints) untuk membawa beragam kombinasi rudal, bom pintar, hingga pod peperangan elektronik. (RNS)

