Selamat tinggal, Northrop Grumman mengakiri pengiriman komponen jet tempur F/A-18E/F Super Hornet kepada Boeing

RAAF Super HornetRAAF

AIRSPACE REVIEW – Northrop Grumman telah melakukan pengiriman terakhir komponen struktural utama jet tempur F/A-18E/F Super Hornet kepada Boeing. Langkah ini secara resmi mengakhiri keterlibatan perusahaan ini dalam pembuatan Super Hornet selama beberapa dekade terakhir.

Pengiriman komponen terakhir Super Hornet pesanan Angkatan Laut AS (US Navy) mencakup badan pesawat bagian tengah, bagian belakang badan pesawat, dan sirip vertikal. Ini adalah komponen-komponen penting yang melambangkan penutupan definitif jalur struktural program ini.

Selanjutnya, komponen tersebut akan dirakit di fasilitas perakitan akhir Super Hornet milik Boeing untuk kemudian pesawat akan diserahkan kepada US Navy pada tahun 2027.

Pengumuman tersebut disampaikan Nmorthrop Grumman saat presentasi hasil keuangan kuartal keempat tahun 2025 pada 31 Januari 2026.

Dengan demikian, tanggung jawab sepenuhnya akan beralih ke Boeing, sesuai kontrak akhir yang ditandatangani dengan Angkatan Laut AS.

Tonggak industri ini menandai transisi pasti Super Hornet dari fase produksi ke tahap baru yang berfokus pada pemeliharaan dan modernisasi armada yang ada.

US Navy berencana untuk menjaga ratusan pesawat tetap beroperasi melalui program pemeliharaan ekstensif, kontrak dukungan logistik, dan peningkatan Super Hornet ke Block III.

Sementara pengembangan pesawat tempur berbasis kapal induk generasi berikutnya, yang dikenal sebagai F/A-XX, masih dalam tahap perencanaan.

Penutupan produksi struktur juga mengukuhkan akhir rantai industri untuk rangka pesawat Super Hornet baru, pesawat yang mulai dikembangkan pada awal tahun 1990-an.

Super Hornet dirancang untuk mengganti berbagai model pesawat berbasis kapal induk dengan satu platform multifungsi.

Pesawat ini dirancang lebih besar dan lebih canggih dibanding F/A-18C/D Hornet, pendahulunya.

Super Hornet memiliki badan yang lebih panjang, sayap yang diperbesar, dan kapasitas bahan bakar internal yang lebih besar juga. Secara keseluruhan, ukurannya 25% lebih besar dibanding Hornet.

Fitur-fitur tersebut menghasilkan jangkauan, muatan, dan fleksibilitas operasional yang lebih besar.

Lubang masukan udara (air intake) Super Hornet memiliki bentuk persegi (parallelogram) yang khas untuk meningkatkan asupan udara ke mesin dan mengurangi jejak radar (RCS).

Sejak mulai beroperasi pada akhir tahun 1990-an, Super Hornet telah menjadi pesawat tempur berbasis kapal induk utama US Navy, menggantikan pesawat-pesawat bersejarah seperti F-14 Tomcat dan A-6 Intruder.

Selama hampir tiga dekade, lebih dari 600 unit diproduksi untuk Amerika Serikat dan klien internasional seperti Australia dan Kuwait.

Varian perang elektronik EA-18G Growler, yang berasal dari kerangka pesawat yang sama, produksinya dihentikan lebih awal, setelah sepenuhnya memenuhi kebutuhan Angkatan Laut AS dan Angkatan Udara Kerajaan Australia.

Dari sudut pandang operasional, F/A-18E/F berpartisipasi dalam kampanye berkepanjangan di Afghanistan, Irak, Suriah, dan wilayah-wilayah sensitif di Timur Tengah, mengumpulkan tingkat sorti yang tinggi dan membuktikan ketangguhannya dalam operasi intensif dari kapal induk.

Selain pertempuran udara ke udara dan misi serangan darat, Super Hornet juga mengambil peran pengisian bahan bakar udara taktis, meningkatkan fleksibilitas kelompok udara berbasis kapal induk setelah penghentian penggunaan platform khusus.

Peningkatan terbaru pada standar Block III mencakup layar panorama besar di kokpit, peningkatan signifikan dalam konektivitas dan integrasi jaringan, pengurangan jejak radar, dan peningkatan masa pakai struktur hingga 10.000 jam terbang.

Kemajuan ini dianggap penting untuk menjaga relevansi armada hingga tahun 2030-an, terutama mengingat penundaan dan ketidakpastian seputar program penggantian. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *