Setelah tertunda cukup lama, kapal tempur pesisir KD Maharaja Lela pertama Malaysia memulai uji coba laut pertamanya

KD Maharaja LelaLUNAS

AIRSPACE REVIEW – Setelah pengembangannya tertunda cukup lama, kapal tempur pesisir (LCS) pertama Angkatan Laut Malaysia, KD Maharaja Lela (2501), meninggalkan Lumut Naval Shipyard (LUNAS) untuk memulai uji coba laut pertamanya.

Pada 27 Januari 2026, kapal tersebut terpantau beroperasi di lepas Pulau Pangkor di bawah pengawalan sebuah kapal tunda.

Bersamaan dengan dimulainya uji coba laut KD Maharaja Lela, Galangan Kapal Angkatan Laut Lumut merilis materi yang menggambarkan kemajuan paralel pada kapal-kapal lain dari kelas yang sama.

Sebuah rangkaian video, mendokumentasikan fase konstruksi kapal ketiga, KD Sharif Masahor (2503), menunjukkan penyelesaian struktur atasnya dan pemasangan fitur eksternal utama.

Sementara kapal kedua, KD Raja Muda Nala (2502), tetap berada di galangan kapal dan melanjutkan kegiatan pemasangan perlengkapannya.

Program Maharaja Lela sendiri tetap berada di bawah pengawasan publik dan parlemen yang berkelanjutan, setelah bertahun-tahun mengalami penundaan dan pembengkakan biaya yang mengganggu jadwal awalnya.

Diluncurkan pada tahun 2011, proyek tersebut terhenti beberapa tahun kemudian, yang menyebabkan penyelidikan pemerintah dan penangguhan sementara sebelum pekerjaan dilanjutkan pada tahun 2020.

Berdasarkan perencanaan saat ini, Malaysia bermaksud untuk mengoperasikan lima kapal (dari enam rencana semula) hingga tahun 2030-an, dengan unit pertama diharapkan dioperasikan pada tahun ini.

Pengembangan kapal kelas KD Maharaja Lela ini didasarkan pada korvet Gowind 2500 buatan Naval Group dari Prancis (sebelumnya DCNS), dan menggabungkan transfer teknologi yang disepakati selama fase awal program.

Kapal pertama mulai dibangun pada 8 Maret 2016 di LUNAS, dan diluncurkan pada 24 Agustus 2017, sebelum konstruksi melambat dan kemudian dihentikan karena program tersebut mengalami gangguan keuangan dan kontrak selama beberapa tahun.

Kapal kelas KD Maharaja Lela memiliki bobot penuh sekitar 3.100 ton, panjang 111 m, lebar 16 m, dan sarat air 3,85 m. Kapal menampung sebanyak 130 personel.

Dek belakang kapal dapat menampung satu helikopter ukuran sedang, seperti Super Lynx 300 atau AW139, dan sistem pesawat nirawak.

Kapal ini menggunakan sistem manajemen tempur SETIS dan dilengkapi dengan radar pengawasan SMART-S Mk2, sistem kontrol tembak elektro-optik Rheinmetall TMEO Mk2 dan TMX/EO Mk2.

Lalu, rangkaian peperangan antikapal selam Thales yang menggabungkan sonar terpasang di lambung Kingklip Mk1 dengan susunan tarik CAPTAS-2.

Sistem peperangan elektronik dan umpan pada kapal, mencakup sistem pengukuran dukungan elektronik Thales Vigile dan peluncur umpan Wallop Super Barricade.

Persenjataan untuk kelas KD Maharaja Lela terdiri dari meriam utama Bofors 57 mm, dua kanon MSI DS30M 30 mm, dan dua peluncur torpedo J+S tiga laras untuk peperangan antikapal selam.

Sedangkan perlengkapan rudal direncanakan adalah 16 sel peluncuran vertikal (VLS) Sylver yang ditujukan untuk rudal permukaan ke udara jarak pendek VL MICA dan kemampuan antikapal permukaan yang dengan delapan NSM (Naval Strike Missile).

Sebagai tenaga penggeraknya, kapal mengadopsi sistem propulsi gabungan diesel dan diesel (CODAD) menggunakan empat mesin diesel MTU 20V 1163 M94.

Kecepatan maksimum kapal mencapai 28 knot dan jangkauan 5.000 mil laut pada kecepatan jelajah 15 knot. Daya tahan kapal diperkirakan sekitar 21 hari di laut. (RBS)

One Reply to “Setelah tertunda cukup lama, kapal tempur pesisir KD Maharaja Lela pertama Malaysia memulai uji coba laut pertamanya”

  1. Dari sisi jeroan sistem management dan sensor kapal memang lebih bagus daripada FMP, tinggal nunggu siapa yg duluan diserah terimakan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *