Prancis akan menyediakan lebih banyak rudal dan jet tempur Mirage 2000-5 untuk Ukraina

Mirage 2000-5AAE

AIRSPACE REVIEW – Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov mengatakan ia telah mengadakan pembicaraan dengan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, pada 28 Januari 2026.

Pembicaraan berfokus pada penguatan pertahanan udara Ukraina, kemampuan penerbangan, dan upaya untuk melawan apa yang disebut armada bayangan Rusia yang terdiri dari kapal tanker minyak yang dikenai sanksi.

Dalam sebuah unggahan di Telegram, Fedorov berterima kasih kepada Prancis atas kerja sama dan kontribusinya yang telah lama terjalin dalam melindungi wilayah udara Ukraina. Ia menegaskan, kemitraan ini telah memberikan hasil yang nyata.

“Kami mengandalkan pasokan amunisi dari Prancis, baik untuk sistem pertahanan udara SAMP/T dan Crotale, maupun untuk senjata jarak jauh. Saya berterima kasih atas kesediaan Anda untuk mentransfer rudal buatan Prancis tambahan dalam waktu dekat,” tulis Fedorov ditujukan kepada mitranya.

Sebelumnya, Prancis berencana untuk mengerahkan sistem pertahanan udara generasi berikutnya, SAMP/T NG, ke Ukraina segera setelah sistem tersebut beroperasi.

Pembicaraan juga membahas transfer jet tempur Mirage 2000-5 ke Ukraina.

“Kami mengharapkan pengiriman pesawat tambahan, yang akan secara signifikan memperkuat kemampuan kami di udara,” tambah Fedorov.

Jet tempur Mirage 2000-5 diakui telah terbukti sangat efektif di tangan Angkatan Udara Ukraina. Seorang pilot tempur Ukraina yang menerbangkan pesawat buatan Prancis ini sebelumnya melaporkan tingkat keberhasilan 98% dalam mencegat drone dan rudal Rusia.

Fedorov selanjutnya menyambut baik sikap tegas Prancis dalam membatasi apa yang disebut armada bayangan Rusia.

“Saya mencatat posisi prinsip Prancis dalam membatasi aktivitas ‘armada bayangan’ Rusia. Mengurangi sumber daya musuh adalah faktor kunci dalam mengurangi kemampuannya untuk membiayai perang,” ujarnya.

Fedorov menambahkan, ia mengundang Vautrin untuk mengunjungi Ukraina dan menyatakan kesiapannya untuk memperdalam kerja sama, termasuk dalam pertukaran data dan kerja analitis bersama.

Sebelumnya dilaporkan, Angkatan Laut Prancis telah berhasil menaiki sebuah kapal tanker minyak yang datang dari Rusia, yang diduga mengibarkan bendera palsu dan melanggar sanksi internasional sebagai bagian dari apa yang disebut armada bayangan Rusia. Prancis juga telah menahan kapten kapal tersebut. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *