AIRSPACE REVIEW – Duta Besar Amerika Serikat untuk Kanada, Pete Hoekstra, menyatakan bahwa Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara (NORAD) dapat mengalami perubahan struktural jika Ottawa memutuskan untuk tidak melanjutkan akuisisi penuh 88 jet tempur F-35.
Dalam sebuah wawancara dengan CBC News saat kunjungannya ke Pangkalan Angkatan Udara Luke, Hoekstra menyatakan bahwa jika Kanada gagal menyediakan kemampuan udara yang direncanakan semula, Amerika Serikat harus mengompensasi kekurangan ini dengan meningkatkan armadanya sendiri dan mengintensifkan misi pesawat AS di atas wilayah Kanada.
Menurut diplomat tersebut, potensi pengurangan jumlah pesawat F-35 Kanada akan memaksa Washington untuk memikul tanggung jawab langsung yang lebih besar atas pengawasan dan kesiapan pertahanan udara kontinental.
Ia menekankan, dalam skenario ancaman yang lebih kompleks dan beragam, termasuk vektor jarak jauh dan risiko dari Arktik, ketiadaan kemampuan yang diantisipasi akan memerlukan penyesuaian operasional segera.
Pernyataan tersebut kembali memicu perdebatan tentang masa depan NORAD, salah satu kemitraan militer tertua di dunia. NORAD bertanggung jawab untuk mendeteksi, melacak, dan menanggapi ancaman udara dan antariksa di atas Amerika Utara.
Dalam praktiknya, pesawat AS telah terlibat dalam misi di wilayah udara Kanada dalam beberapa kejadian baru-baru ini, seperti intersepsi terkait peringatan keamanan yang melibatkan penerbangan sipil dan penembakan jatuh objek udara mencurigakan di atas Wilayah Yukon pada tahun 2023.
Meskipun ia menggambarkan hubungan pertahanan antara Washington dan Ottawa sebagai hubungan yang solid, Hoekstra memperingatkan bahwa frekuensi intervensi ini kemungkinan akan meningkat jika Kanada hanya mempertahankan 16 pesawat F-35 yang telah dipesan.
Duta Besar AS menyatakan bahwa pilihan Kanada terhadap jet tempur alternatif, seperti Saab Gripen buatan Swedia, akan memerlukan peninjauan menyeluruh terhadap pengaturan NORAD yang berlaku saat ini.
Menurut pandangan Washington, F-35 menawarkan tingkat interoperabilitas, integrasi sensor, dan berbagi data yang unggul, faktor-faktor yang dianggap penting untuk operasi gabungan skala besar.
Mengadopsi platform yang dianggap kurang terintegrasi, menurut mereka, dapat secara signifikan mengubah cara koordinasi pertahanan udara AS.
Masalah ini tidak hanya terjadi di Amerika Utara. Di negara-negara Eropa yang mengoperasikan atau berencana mengoperasikan F-35, perdebatan juga muncul mengenai biaya, ketersediaan, dan ketergantungan logistik pada Amerika Serikat.
Di Denmark, para anggota parlemen telah secara terbuka menyatakan kekhawatiran mereka tentang tingkat kesiapan pesawat dan ketergantungan pada rantai pasokan yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan Amerika. Dikhawatirkan hal ini dapat menciptakan kerentanan strategis selama masa ketegangan politik.
Di Kanada, jajak pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk memandang positif dimasukkannya jet tempur Gripen ke dalam armada nasional, terutama karena argumen terkait biaya dan pemeliharaan.
Meskipun demikian, para ahli militer memperingatkan bahwa mengoperasikan dua jenis jet tempur yang berbeda akan secara signifikan meningkatkan kompleksitas logistik, biaya pelatihan, dan pemeliharaan sepanjang siklus hidup pesawat, yang selanjutnya akan membebani anggaran pertahanan.
Pesan 88 Unit, Baru 16 yang Diproses
Seperti diketahui Kanada secara resmi telah menyepakati pembelian total 88 unit jet tempur siluman F-35A Lightning II dari Amerika Serikat. Kesepakatan ini diresmikan pada Januari 2023 untuk menggantikan armada CF-18 Hornet Angkatan Udara Kerajaan Kanada (RCAF) yang sudah tua.
Nilai pesanan yang disepakati awalnya ditaksir sekitar 19 miliar dolar Kanada (Rp218 triliun). Namun laporan terbaru menunjukkan adanya kenaikan biaya operasional dan akuisisi hingga mencapai 27,7 miliar dolar Kanada.
Kontrak pertama akuisisi F-35A sebanyak 16 unit oleh Kanada telah dikonfirmasi dan dibayar. Pesawat pertama dijadwalkan mulai dikirim ke pangkalan udara di AS untuk pelatihan pilot pada tahun ini, 2026.
Unit pertama akan dikirimkan ke Kanada pada 2028. Sementara armada terakhir diharapkan sudah beroperasi penuh (Full Operational Capability/FOC) antara tahun 2032 hingga 2034.
Meskipun kontrak sudah ditandatangani, sempat muncul ketegangan politik antara Ottawa dan Washington, dengan wacana untuk mengurangi jumlah pembelian total F-35, di mana sebagiannya mungkin akan dialihkan ke jet tempur alternatif seperti Gripen E/F dari Swedia. (RNS)


Lucu as ini kanada mau kurangi pesenan mgamuk lah dia sendiri seenaknya naikkin harga padahal sudsh dwla di depan dgn.naik hampir 50% lagi 🤣