AIRSPACE REVIEW – Kapal perusak USS Zumwalt (DDG-1000) akan dioperasikan kembali pada tahun 2026 ini, setelah tiga tahun berada di dok kering. Kapal tengah dipasangi sistem senjata Conventional Prompt Strike (CPS).
Pekerjaan tersebut dilaporkan telah selesai pada November tahun 2025 lalu. Secara khusus, pemasangan empat peluncur yang masing-masing mampu membawa tiga rudal hipersonik telah rampung.
Selanjutnya, sistem kapal akan dipulihkan dalam waktu dekat, diikuti dengan siklus pengujian lengkap seluruh sistem CPS.
Setelah kembali bertugas, USS Zumwalt akan menjadi kapal perang pertama di Angkatan Laut AS yang dipersenjatai dengan rudal hipersonik.
.
Untuk memasang persenjataan baru di kapal, kedua dudukan artileri Advanced Gun Systems (AGS) 155 mm, yang sebelumnya berfungsi sebagai senjata utama dibongkar.
Kemudian, sistem peluncur rudal CPS ditempatkan di depan kubah senjata pertama dan ruang yang ditempati oleh kubah kedua digunakan untuk kebutuhan lain.
Modul CPS sendiri pada dasarnya identik dengan modul yang direncanakan untuk dipasang pada kapal selam nuklir serbaguna kelas Virginia Block V.
Integrasi modul tersebut pada Zumwalt memungkinkan pengujian teknologi pemasangan untuk meminimalkan risiko selama pemasangan rudal ini di masa mendatang pada platform lain.
Selain USS Zumwalt, kapal perusak kelas Zumwalt lainnya yakni USS Michael Monsoor (DDG-1001) dan USS Lyndon B. Johnson (DDG-1002) juga akan ditingkatkan ke standar yang sama pada waktunya.
Pekerjaan pada kapal kedua yang menjalani modernisasi, USS Lyndon B. Johnson, telah dimulai. Pembongkaran dudukan artileri depan dan pekerjaan lain untuk menyingkirkan peralatan lain juga telah selesai.
DDG-1002 dijadwalkan kembali beroperasi pada saat DDG-1001 memasuki dok kering pada tahun 2027 untuk perawatan terjadwalnya.
Mengenai senjata hipersonik untuk kelas Zumwalt ini, dikembangkan dari Senjata Hipersonik Jarak Jauh (LRHW) Dark Eagle, rudal permukaan ke permukaan yang telah digunakan Angkatan Darat AS, dirancang oleh Lockheed Martin.
Rudal dengan jangkauan 3.500 km dan kecepatan 5 Mach ini, dirancang untuk menghancurkan area yang luas, muatan peledaknya dapat “menyebar” sehingga mengenai target-target yang telah ditentukan. (RBS)

