AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Australia (RAAF) pada Januari 2026 ini telah menerima pesawat MC-55A Peregrine pertama dari empat yang dibeli. Kehadiran pesawat ini akan meningkatkan kemampuan negara tersebut dalam Intelijen Udara, Pengawasan, Pengintaian, dan Peperangan Elektronik (AISREW) di kawasan Indo-Pasifik.
Dibangun dari sasis jet eksekutif Gulfstream G550, MC-55A Peregrine dikerjakan oleh perusahaan AS, L3Harris Technologies, sehingga mampu melakukan tugas-tugas kompleks yang jauh melampaui tugas ISR tradisional. Perusahaan ini juga mengerjakan proyek serupa untuk militer AS, yaitu EA-37B Compass Call.
Peregrine dilengkapi dengan serangkaian sensor SIGINT (Signal Intelligence) dan ELINT (Electronic Intelligence) canggih, antena yang tersebar di sepanjang badan pesawat, dan tautan komunikasi satelit.
Hal ini memungkinkannya pesawat untuk mengidentifikasi, dan menentukan lokasi emisi radar dan komunikasi di wilayah maritim dan pesisir Indo-Pasifik yang luas.
Arsitektur terbuka dari sistem di dalam pesawat MC-55A dirancang untuk memasilitasi peningkatan berkelanjutan, mengikuti perkembangan teknologi yang pesat dan perubahan profil ancaman regional.
Dengan kemampuan terbang selama hampir 15 jam dan terbang hingga ketinggian di atas 15.000 meter (hampir 50.000 kaki), Peregrine dapat mempertahankan misi pengawasan terus-menerus untuk jangka waktu yang lama.
Salah satu pembeda utama Peregrine adalah fungsinya sebagai simpul penggabungan dan relai data dalam lingkungan pertempuran yang terhubung jaringan.
Pesawat ini dirancang untuk berbagi informasi dengan pesawat tempur siluman F-35A Lightning II, pesawat peringatan dini E-7A Wedgetail, jet serang elektronik EA-18G Growler, serta unit angkatan laut dan pasukan darat.
Hal ini menciptakan jaringan terintegrasi di mana sensor, platform, dan komandan beroperasi dengan kerangka taktis yang sama, meningkatkan efektivitas operasi gabungan dan kemampuan untuk menanggapi ancaman yang kompleks.
RAAF akan menempatkan armada MC-55A di Pangkalan RAAF Edinburgh di selatan negara itu, di mana kemampuan pengawasan dan patroli penting lainnya sudah terkonsentrasi.
MC-55A Peregrine akan diintegrasikan dengan aset seperti P-8A Poseidon dan drone MQ-4C Triton, guna memperluas jangkauan pengawasan maritim Australia.
Menggantikan Peran AP-3C Orion
MC-55A Peregrine akan menggantikan peran pesawat AP-3C Orion (AP – Airborne Patrol) yang sudah tua. Kehdirannya menjadi bintang utama baru di jajaran RAAF, khususnya dalam program AISREW.
AISREW berfungsi sebagai “router Wi-Fi raksasa” di langit. Sistem ini akan mengambil data dari sensor di laut atau darat, lalu membagikannya ke jet tempur seperti F-35A untuk mengetahui dengan persis di mana posisi musuh tanpa harus menyalakan radar mereka sendiri.
Dengan teknologi ELINT, pesawat dalam program AISREW bisa mengetahui lokasi radar musuh hanya dengan “mendengarkan” emisi sinyalnya dari jarak ratusan kilometer.
Di Indo-Pasifik, negara lain yang telah memiliki pesawat serupa dengan MC-55A Australia adalah Singapura dengan Gulfstream G550 CAEW (Conformal Airborne Early Warning), Jepang dengan Kawasaki RC-2, dan China dengan Shaanxi Y-9LG dan Y-8G. (RNS)


Berat dan harus diakui, soal kemampuan pernika kita masih “jauh panggang dari api” apabila dibandingkan tetangga selatan walau secara peringkat kita di atas mereka berdasarkan GeEpEh yang jadi rujukan para fanatisme. Tetangga selatan punya EA-18G, MQ-4C Triton dan kini MC-55A Peregrine. Alamat kita tetangga utaranya bakal jadi santapan mereka tak hanya kawasan Indo-Pasifik secara luas 😅